Jumat 15 May 2026 10:03 WIB

Pendidikan Layak Buka Jalan Anak-anak Pesisir Menuju Kampus Impian

PT Timah dorong peningkatan kualitas anak didik di Bangka Belitung

 Asrama Pemali Boarding School punya PT Timah
Foto: Timah
Asrama Pemali Boarding School punya PT Timah

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKA -- Pagi di Asrama Pemali Boarding School selalu dimulai lebih awal. Sejumlah siswa sudah bangun sebelum matahari terbit, merapikan tempat tidur, lalu bersiap mengikuti kegiatan pagi sebelum berangkat ke sekolah untuk menjalani pelajaran akademik.

Bagi mereka, rutinitas bangun pagi menjadi kewajiban yang dicontohkan dengan baik oleh para senior. Kelak, kebiasaan itu diharapkan menjadi modal untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka di kampung halaman.

Di lingkungan asrama, para siswa mendapatkan ruang dan kesempatan untuk belajar serta berkembang lebih baik. Melalui program sekolah berasrama berbasis beasiswa, anak-anak dari keluarga buruh harian, nelayan, hingga pekerja serabutan kini memiliki akses terhadap pendidikan yang sebelumnya sulit dijangkau.

Program Pemali Boarding School yang didukung PT Timah, anggota holding industri pertambangan MIND ID, telah berjalan sejak 2000 dan menjangkau wilayah Bangka Belitung, Karimun, hingga Meranti. Hingga kini, sekitar 952 alumni telah merasakan manfaat program tersebut.

Di balik angka itu, Kepala Asrama Pemali Boarding School Ulul menyampaikan mayoritas siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.

“Banyak orang tua yang awalnya ragu karena keterbatasan biaya. Mereka tidak membayangkan anaknya bisa mendapatkan fasilitas pendidikan seperti ini,” ujar Ulul.

Setelah memahami program ini memberikan dukungan penuh, mulai dari pendidikan hingga berbagai pembinaan, para orang tua justru menjadi pihak yang paling mendorong anak-anak mereka mengikuti seleksi.

Setiap tahun, sebanyak 36 siswa terpilih mendapatkan beasiswa penuh dan tinggal di asrama selama menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pemali. Proses seleksi dilakukan melalui asesmen akademik dan psikologi bekerja sama dengan tim dari Universitas Padjadjaran.

Ulul menuturkan pembinaan di asrama tidak hanya berfokus pada akademik. Para siswa juga dibekali keterampilan seperti public speaking, pengelolaan media sosial, serta penguatan karakter dan kepemimpinan.

Pembinaan dilakukan secara rutin untuk membantu siswa menghadapi tantangan di luar sekolah, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kepercayaan diri dan cara mereka melihat masa depan,” ujarnya.

Dampak program mulai terlihat dari capaian para siswa. Tahun ini, sebanyak 20 siswa berhasil lolos ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Siswa lainnya masih menjalani proses seleksi melalui jalur tes.

Para siswa juga mencatatkan prestasi dalam lomba debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di tingkat Kabupaten Bangka.

Dampak yang lebih penting terlihat dalam jangka panjang. Banyak alumni melanjutkan pendidikan atau telah bekerja, lalu perlahan mulai berkontribusi kembali di lingkungan sekitarnya.

“Mereka tidak hanya berubah secara pribadi, tetapi juga membawa pengaruh bagi keluarga dan komunitasnya. Itu yang paling terasa,” katanya.

Menurut Ulul, tantangan terbesar para siswa muncul pada masa awal adaptasi. Sebagian siswa belum pernah tinggal jauh dari orang tua dan harus menyesuaikan diri dengan pola belajar yang lebih disiplin.

“Namun, proses itulah yang membentuk mereka. Seiring waktu, para siswa mulai menunjukkan perubahan. Mereka yang semula pendiam menjadi lebih berani berbicara, lebih percaya diri, dan mampu mengikuti ritme belajar yang lebih terstruktur,” jelasnya.

Bagi anak-anak dari pesisir dan kawasan tambang, kesempatan ini bukan sekadar soal bersekolah. Kesempatan ini menjadi titik awal yang membuka masa depan baru untuk melanjutkan pendidikan, membantu keluarga, dan melihat hari esok dengan cara yang berbeda.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement