REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Perubahan iklim tidak hanya meningkatkan suhu lautan, tetapi juga memicu penyusutan ukuran tubuh satwa laut. Temuan itu diperoleh dari penelitian yang menganalisis perubahan ukuran organisme laut selama sekitar 450 juta tahun dan menunjukkan fenomena tersebut semakin ekstrem pada periode pemanasan global.
Penelitian yang dilakukan Friedrich-Alexander-Universität Erlangen-Nürnberg (FAU), Universitas Warsawa, dan Universitas Lille menemukan berbagai satwa laut, seperti kerang, krustasea, dan ikan, cenderung mengecil ketika menghadapi krisis lingkungan. Fenomena yang dikenal sebagai efek Lilliput itu dinilai menjadi salah satu respons biologis terhadap tekanan lingkungan.
Tim peneliti menganalisis hampir 9.000 data perubahan ukuran tubuh satwa laut yang berasal dari catatan fosil, catatan sejarah, hingga pengamatan modern. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan pemanasan global menjadi faktor yang memperkuat penyusutan ukuran tubuh organisme laut.
“Data kami menunjukkan penurunan ukuran tubuh merupakan respons umum satwa laut terhadap krisis lingkungan. Kami mengamati fenomena ini di berbagai kelompok hewan yang sangat beragam, mulai dari kekerdilan pada spesies tertentu hingga dominasi spesies berukuran kecil di seluruh komunitas ekosistem. Penyusutan ukuran tubuh merupakan sinyal kuat ekosistem sedang mengalami stres berat,” kata penulis utama penelitian, Paulina Nätscher, dikutip dari Phys.org, Sabtu (4/7/2026).
Peneliti dari Universitas Warsawa Kenneth De Baets menjelaskan, penyusutan ukuran tubuh terjadi pada hampir seluruh krisis lingkungan. Namun, dampaknya menjadi jauh lebih besar ketika krisis tersebut dipicu oleh kenaikan suhu bumi.
“Di semua krisis lingkungan, baik yang dipicu oleh pemanasan suhu maupun tidak, penyusutan ukuran tubuh pasti terjadi di dalam komunitas biologis,” kata Kenneth.
Menurut dia, pemanasan global yang ekstrem memicu perubahan ukuran tubuh yang lebih besar pada tingkat spesies.
“Namun, yang paling menyita perhatian adalah krisis dengan pemanasan global yang ekstrem memicu perubahan yang jauh lebih kuat dan bervariasi langsung di dalam spesies itu sendiri, atau dengan kata lain, memicu kekerdilan yang nyata. Rata-rata, dampak penyusutan ini dua kali lipat lebih parah selama fase pemanasan dibanding krisis lingkungan lainnya,” ujarnya.
Kepala Unit Analisis Lingkungan Purba FAU Wolfgang Kießling mengatakan, hubungan antara kenaikan suhu dan penyusutan ukuran tubuh satwa laut terlihat sangat jelas dalam catatan sejarah bumi.
“Semakin tinggi suhu bumi meningkat, semakin ekstrem pula penyusutan ukuran tubuh hewan laut. Sejarah bumi dengan demikian memberikan peringatan keras bagi masa depan lautan kita,” kata Wolfgang.
Penelitian tersebut menyimpulkan tren mengecilnya ukuran ikan dan avertebrata laut yang kini mulai diamati di berbagai wilayah bukan sekadar fenomena sementara, melainkan bagian dari pola yang telah berulang selama sejarah geologi bumi. Jika pemanasan global terus berlanjut, ukuran tubuh organisme laut yang lebih kecil diperkirakan akan menjadi kondisi yang semakin umum dan berpotensi memengaruhi rantai makanan laut serta produktivitas perikanan dunia.