REPUBLIKA.CO.ID, PORTO – Banjir, kekeringan, kebakaran hutan, hingga gelombang panas ternyata tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Krisis iklim juga memicu kecemasan psikologis yang semakin banyak dialami masyarakat, terutama generasi muda yang terus dibayangi ketidakpastian masa depan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai eco-anxiety atau kecemasan ekologis, yakni kondisi ketika seseorang mengalami kekhawatiran, ketakutan, bahkan perasaan putus asa akibat dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini semakin sering digunakan para psikolog untuk menggambarkan dampak psikologis dari krisis iklim yang semakin nyata di berbagai belahan dunia.
Perubahan iklim memang tidak lagi menjadi ancaman masa depan. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat beberapa tahun terakhir menjadi periode terpanas dalam sejarah pencatatan modern. Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, kebakaran hutan besar terjadi di Kanada dan Australia, sementara banjir dan kekeringan semakin sering terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di tengah derasnya arus informasi mengenai krisis lingkungan tersebut, banyak orang mulai merasakan kecemasan mendalam terhadap kondisi bumi yang terus memburuk. Kekhawatiran itu tidak hanya muncul pada mereka yang terdampak langsung bencana, tetapi juga pada masyarakat yang setiap hari terpapar berita mengenai perubahan iklim.