Jumat 17 Jul 2026 11:39 WIB

Prancis Hadapi Kekeringan Terparah di Tengah Gelombang Panas

Otoritas Prancis memperketat pengawasan setelah cuaca ekstrem memicu kekeringan.

Orang-orang berlindung dari panas dengan payung di Air Mancur Trocadero dekat Menara Eiffel, di Paris, Prancis.
Foto: EPA/YOAN VALAT
Orang-orang berlindung dari panas dengan payung di Air Mancur Trocadero dekat Menara Eiffel, di Paris, Prancis.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL -- Prancis menghadapi situasi kekeringan yang "luar biasa" dan "sangat mengkhawatirkan", dengan jumlah wilayah yang terkena pembatasan air mencapai rekor tertinggi, kata Menteri Transisi Ekologi Prancis Monique Barbut, Rabu (15/7/2026) lalu.

Berbicara dalam pertemuan unit krisis kementerian, Barbut mengatakan 99 departemen di seluruh daratan Prancis saat ini berada di bawah pembatasan air yang meliputi seluruh wilayah metropolitan, menurut stasiun televisi BFM TV. Dari jumlah tersebut, sebanyak 43 departemen telah mencapai tingkat siaga "krisis" tertinggi, sehingga penggunaan air dibatasi hanya untuk kebutuhan prioritas.

Baca Juga

Sebanyak 206 dekrit prefektur saat ini berlaku, menandai tingkat tertinggi yang tercatat setidaknya sejak 2013, menurut Barbut. Pihak berwenang juga meningkatkan pemantauan kondisi tanah dan saluran air karena kekeringan terus memengaruhi sebagian besar wilayah negara.

Juru Bicara Pemerintah Prancis Maud Bregeon mengatakan 16.500 unit pendingin udara akan dikirim ke rumah sakit pada akhir pekan ini karena Prancis masih menghadapi suhu tinggi.

Bregeon mengatakan total 30.000 unit telah dipesan dan seluruh pengiriman diharapkan selesai pada akhir Juli. Dia menambahkan sekitar 70 persen pendingin udara yang telah dikirim dialokasikan ke departemen yang berada di bawah tingkat peringatan panas tertinggi.

Eropa secara umum diketahui memiliki jumlah pendingin udara yang lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan saat cuaca panas ekstrem, meskipun hal itu telah menjadi perdebatan politik di Prancis.

Sementara itu, Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari mengumumkan 142 orang meninggal akibat tenggelam sejak 19 Juni. Ia memperingatkan angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Menurut dia, peningkatan tersebut dipicu cuaca panas ekstrem yang mendorong lebih banyak orang mencari perlindungan di sungai, danau, serta perairan pesisir. Meskipun suhu secara bertahap menurun di seluruh Prancis, banyak daerah masih mengalami suhu di atas 30 derajat Celsius.

Para peramal cuaca memperkirakan suhu akan mencapai 34 derajat Celsius di Auxerre, 36 derajat Celsius di dekat Bourges, dan hingga 37 derajat Celsius di Lembah Rhone bagian bawah di sekitar Valence.

Badai petir hebat diperkirakan terjadi pada siang hari, terutama di wilayah timur negara itu, dengan aktivitas petir yang kuat. Layanan Cuaca Hutan Prancis telah menetapkan 36 departemen dalam status siaga oranye akibat risiko kebakaran hutan yang "tinggi".

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi