REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengelolaan sampah berbasis sekolah menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) untuk memperkuat pendidikan lingkungan di Kabupaten Sumbawa Barat. Melalui Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS), ribuan siswa dilibatkan dalam pengelolaan sampah organik yang diolah menjadi kompos bernilai guna sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular.
Program tersebut menggabungkan edukasi lingkungan, penyediaan infrastruktur, dan praktik ekonomi sirkular di lingkungan sekolah. Guru mengintegrasikan materi pengelolaan sampah ke dalam pembelajaran, sementara siswa mempraktikkan pemilahan dan pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) sehingga sekolah berkembang menjadi pusat pembelajaran lingkungan yang turut melibatkan keluarga dan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, siswa dan guru mengolah sampah organik di Rumah Kompos (RUMPOS) menjadi POSTA atau Pupuk Organik Sekolah Kita. Kompos tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah, masyarakat, sektor pertanian, hingga kegiatan reklamasi di wilayah operasional AMMAN.
Vice President Policy & Permitting dan Social Impact AMMAN Priyo Pramono mengatakan, melalui PPSS perusahaan ingin memperkuat peran sekolah sebagai pusat transformasi pengetahuan sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
“Dengan program ini, AMMAN turut membangun ekosistem yang mengembangkan generasi muda masa depan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keberhasilan PPSS tidak hanya terlihat dari jumlah sampah yang dikelola, tetapi dari tumbuhnya kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar. Ketika pemahaman itu tumbuh di kalangan siswa, guru, dan keluarga, dampaknya meluas dari sekolah ke masyarakat,” ujar Priyo dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Sejak dimulai pada 2022, PPSS berkembang dari dua sekolah percontohan menjadi enam sekolah aktif dengan melibatkan ribuan siswa, guru, orang tua, masyarakat, serta puluhan relawan karyawan AMMAN.
Selama periode 2022 hingga 2025, program tersebut berhasil mengelola lebih dari 150 ton sampah organik dan menghasilkan lebih dari 50 ton kompos POSTA. PPSS juga membantu menghindari sekitar 11 ton emisi pada 2025 serta mencatat Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,09, yang berarti setiap Rp1 investasi menghasilkan Rp4,09 nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan.
AMMAN menyebut model pengelolaan sampah tersebut mulai direplikasi secara mandiri oleh sejumlah sekolah di luar program tanpa dukungan pendanaan perusahaan. Beberapa sekolah mitra juga berhasil meraih penghargaan Adiwiyata tingkat provinsi dan nasional sebagai pengakuan atas penerapan pengelolaan lingkungan di sekolah.
Atas pelaksanaan PPSS, AMMAN meraih penghargaan kategori Waste Management dalam ajang Lestari Awards 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas pendekatan pengelolaan sampah yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan dengan ekonomi sirkular dan dinilai mampu menciptakan dampak sosial, ekonomi, serta lingkungan secara berkelanjutan.