Ahad 02 Aug 2026 08:12 WIB

Utusan China Dukung Program 100 GW Tenaga Surya Presiden Prabowo

Dunia menghadapi defisit kepemimpinan dalam tata kelola iklim.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: A.Syalaby Ichsan
Petugas membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 megawatt peak (MWp) di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/10/2025). Hingga saat ini PLN UIW NTB mengelola 19 unit pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dengan total kapasitas 37,604 MW yang terdiri dari 56,2 persen PLTS dan 43,8 persen Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan rata-rata produksi sebesar 13,61 gigawatt hour (GWh) per bulan.
Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Petugas membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 megawatt peak (MWp) di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/10/2025). Hingga saat ini PLN UIW NTB mengelola 19 unit pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dengan total kapasitas 37,604 MW yang terdiri dari 56,2 persen PLTS dan 43,8 persen Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan rata-rata produksi sebesar 13,61 gigawatt hour (GWh) per bulan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Utusan Khusus Presiden China untuk Perubahan Iklim, Liu Zhenmin, menyerukan penguatan multilateralisme dan kerja sama internasional untuk menjaga momentum transisi menuju netralitas karbon global. Menurut dia, peningkatan ketegangan geopolitik, unilateralisme, dan hambatan perdagangan menjadi tantangan utama yang menghambat aksi iklim dunia.

Liu menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara dalam Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta.

Baca Juga

Ia mengatakan, selama dua tahun terakhir, dunia mengalami perubahan geopolitik yang signifikan. Kondisi tersebut mempersulit kerja sama internasional yang dibutuhkan untuk mempercepat transisi energi dan mencapai target netralitas karbon.

"Persaingan geopolitik telah mengurangi kepercayaan antarnegara. Unilateralisme dan berbagai hambatan perdagangan hijau telah meningkatkan biaya transisi energi serta menghambat kerja sama internasional," kata Liu, Sabtu (1/8/2026).

Mengutip analisis Wood Mackenzie, Liu mengatakan berbagai kebijakan pembatasan terhadap rantai pasok energi bersih berpotensi meningkatkan biaya transisi energi global hingga sekitar 20 persen.

Selain tantangan geopolitik, Liu menilai dunia juga menghadapi defisit kepemimpinan dalam tata kelola iklim. Menurut dia, mundurnya sejumlah negara dari komitmen iklim multilateral dan berkurangnya dukungan pendanaan iklim telah memperlebar kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang.

Ia mengatakan, negara-negara berkembang menghadapi beban ganda. Di satu sisi mereka harus menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin berat. Di sisi lain, mereka masih dituntut mengejar pertumbuhan ekonomi dengan keterbatasan teknologi, pendanaan, dan kapasitas.

Menurut Liu, tantangan tersebut juga dihadapi negara berkembang berpenduduk besar seperti China dan Indonesia yang harus menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan target penurunan emisi karbon.

photo
Presiden Prabowo Subianto meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). - (Kamran Dikamra/Republika)

 

Berita Lainnya

Rekomendasi