Jumat 02 Oct 2026 13:24 WIB

Abrasi Ancam Pesisir Karawang, 1.000 Mangrove Ditanam

Kelangsungan hidup mangrove menentukan keberhasilan pemulihan pesisir.

Kegiatan penanaman 1.000 bibit mangrove di Pantai Jaya Bahari, Karawang, Jawa Barat.
Foto: Istimewa
Kegiatan penanaman 1.000 bibit mangrove di Pantai Jaya Bahari, Karawang, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG — Lebih dari 23 kilometer garis pantai di Kabupaten Karawang menghadapi kondisi abrasi yang buruk berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Karawang pada 2020. Kondisi tersebut memperbesar kebutuhan pemulihan ekosistem mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir.

Unicharm Indonesia bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang menanam 1.000 bibit mangrove di Pantai Jaya Bahari, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat, pada 29 Juli 2026. Kegiatan bertajuk “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang” itu digelar dalam momentum Hari Mangrove Sedunia yang diperingati setiap 26 Juli.

Baca Juga

Mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai penyerap karbon alami, pelindung garis pantai dari gelombang, serta penahan erosi dan abrasi. Mengutip surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terkait Hari Mangrove Sedunia 2026, Indonesia memiliki sekitar 23 persen dari total luas mangrove global.

Namun, ekosistem mangrove menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan, penebangan liar, pencemaran, dan abrasi pantai. Degradasi mangrove berisiko mengurangi perlindungan alami bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Keanekaragaman Hayati DLHK Kabupaten Karawang Agus Mustaqim mengatakan, penanganan abrasi dan pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan pemerintah dan dunia usaha. Mangrove dinilai memiliki peran penting sebagai pelindung alami daratan.

“Isu abrasi dan pelestarian lingkungan adalah tantangan besar yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Oleh karena itu, kolaborasi strategis lintas sektor antara pemerintah dan dunia usaha seperti ini merupakan kunci utama dalam merealisasikan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan di wilayah Kabupaten Karawang,” kata Agus dalam keterangan yang diterima pada Jumat (2/10/2026).

Unicharm Indonesia menyatakan pertumbuhan bibit mangrove yang telah ditanam akan dipantau secara berkala. Pemantauan diperlukan untuk memastikan tanaman dapat bertahan dan mendukung pemulihan kawasan pesisir dalam jangka panjang.

Direktur Unicharm Indonesia Eiji Ito mengatakan, kegiatan tersebut melanjutkan program lingkungan perusahaan di Karawang. Sebelumnya, perusahaan menanam 1.500 pohon bambu di kawasan tanggul Sungai Citarum pada 2021.

“Sebagai perusahaan yang mengoperasikan dua unit pabrik di wilayah Karawang, kami memiliki tanggung jawab moral yang kuat untuk menjaga kelestarian lingkungan setempat. Setelah sebelumnya kami berkontribusi menanam 1.500 pohon bambu di area tanggul Sungai Citarum pada tahun 2021, kali ini kami melanjutkannya dengan melakukan restorasi kawasan pesisir melalui penanaman 1.000 bibit mangrove di Pantai Jaya Bahari”.

Tekanan abrasi membuat keberhasilan pemulihan pesisir tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Kelangsungan hidup mangrove dan pemantauan setelah penanaman menjadi faktor penting agar fungsi ekologisnya dapat terbentuk dalam jangka panjang.

Berita Lainnya

Rekomendasi