Sabtu 10 Oct 2026 16:15 WIB

ACEXI Luncurkan COPPER-ACE untuk Percepat Target Iklim Nasional

ACEXI dorong peningkatan nilai ekonomi karbon di Indonesia

PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) mengimplementasikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada Kapal Oil Barge (OB) Patra 2303 sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi sektor maritim.
Foto: Pertamina
PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) mengimplementasikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada Kapal Oil Barge (OB) Patra 2303 sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi sektor maritim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Ahli Emisi Karbon Indonesia (ACEXI) meluncurkan COPPER-ACE Initiative untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menekan emisi karbon dan mengembangkan tata kelola Nilai Ekonomi Karbon (NEK) di Indonesia. Inisiatif ini mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, asosiasi profesi, dan pelaku industri untuk mempercepat pencapaian target iklim nasional.

ACEXI meluncurkan inisiatif tersebut di Ruang Seminar Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (9/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan tiga tahun organisasi tersebut.

Ketua Umum ACEXI, Lastyo Kuntoaji Lukito, mengatakan penurunan emisi karbon membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Melalui COPPER-ACE, ACEXI ingin membangun ekosistem yang mendukung pengurangan emisi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, dan memperkuat kelembagaan di bidang karbon.

"Di usianya yang menjelang tiga tahun, ACEXI melihat kebutuhan untuk kolaborasi dari berbagai pihak sangat besar. COPPER-ACE Initiative adalah jawaban nyata kami untuk menciptakan ekosistem yang efektif bagi penurunan emisi. Kami ingin memastikan solusi iklim Indonesia berjalan secara berkelanjutan dan berkeadilan melalui penguatan kapasitas ahli-ahli karbon domestik," ujar Lastyo.

Direktur Tata Kelola Penerapan Nilai Ekonomi Karbon, Haryo Pambudi, menjelaskan, pemerintah perlu memperkuat kesiapan sektoral, proyek, investasi, dan mekanisme perdagangan karbon untuk mengembangkan tata kelola NEK.

Menurut dia, investasi tidak hanya berfungsi untuk memenuhi target Nationally Determined Contribution (NDC), tetapi juga membuka peluang pencapaian target yang lebih ambisius. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam penyusunan rencana kerja tahunan atau Annual Work Plan 2027, khususnya terkait tata kelola NEK.

Penasihat Utama Menteri Kehutanan, Edo Mahendra, menilai COPPER-ACE dapat mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan nilai ekonomi karbon di Indonesia.

Ia juga menyoroti peluang penerapan inisiatif tersebut dalam pengembangan perhutanan sosial. Menurut Edo, ACEXI dapat mendukung masyarakat melalui peningkatan kapasitas, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan standar dan praktik terbaik agar masyarakat berperan langsung dalam proyek karbon.

Pendekatan tersebut penting untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga hutan sekaligus membuka peluang ekonomi dari pengelolaan karbon.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengatakan pengembangan pasar karbon membutuhkan infrastruktur perdagangan sekaligus penguatan ekosistem yang mempertemukan berbagai pelaku pasar.

Sejak meluncurkan IDXCarbon pada 26 September 2023, BEI menjalankan pengembangan pasar dan ekosistem untuk memperluas partisipasi dalam perdagangan karbon. Namun, para pelaku masih menghadapi tantangan dalam menemukan mitra, memahami kebutuhan masing-masing, dan membangun kolaborasi.

Iding berharap COPPER-ACE dapat mempertemukan tenaga ahli dengan kebutuhan industri, pengembang proyek dengan calon mitra, serta penyedia dan pembeli kredit karbon. Dengan begitu, Indonesia dapat mengoptimalkan potensi ekonomi karbon untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian domestik.

Direktur Utama PT Energy Management Indonesia (Persero), Henri Firdaus, mengatakan transisi menuju ekonomi rendah karbon membutuhkan sinergi pemerintah, dunia usaha, akademisi, asosiasi profesi, dan masyarakat.

Menurut dia, kolaborasi lintas sektor dapat menjembatani kebijakan, keahlian teknis, kebutuhan industri, dan implementasi program pengurangan emisi. PT Energy Management Indonesia (PLN EMI) pun menyatakan kesiapan untuk menjajaki kerja sama sesuai kompetensi perusahaan, terutama dalam pengelolaan energi, pengurangan emisi, dan penguatan ekosistem berkelanjutan.

Dalam peluncuran tersebut, sejumlah perusahaan dan asosiasi menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) serta surat pernyataan minat (Letter of Intent/LoI) dengan ACEXI.

Sebanyak 12 institusi masuk dalam daftar mitra awal COPPER-ACE Initiative. Mitra tersebut mencakup PT Energy Management Indonesia (Persero), PT Bursa Efek Indonesia, PT Agrotek Lestari Internasional, PT Haskoning Indonesia, RGV Business Solutions, Ikatan Alumni Universitas Indonesia, UMBRA Strategic Legal Solutions, PT BATS International Group, PT Mitra Finanz Wicaksana, PT Biru Karbon Nusantara, PT Recoolit Bumi Lestari, dan PT Sentra Solusi Automa.

Sebagai tindak lanjut, ACEXI akan memetakan orientasi kegiatan para mitra untuk mengidentifikasi peluang kerja sama. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pengendalian perubahan iklim dan tata kelola NEK di Indonesia.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi