REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan lingkungan menjadi isu yang perlu dikenalkan kepada anak sejak dini. Namun, orang tua perlu menyampaikan persoalan tersebut dengan cara yang sesuai usia agar anak memahami dampaknya tanpa merasa takut atau terbebani.
Pendekatan literasi eko-kritis (ecocritical literacy) menjadi salah satu cara untuk membantu anak memahami hubungan manusia dengan alam, termasuk dampak pilihan dan perilaku manusia terhadap lingkungan. Pendekatan ini dibahas dalam diskusi bertajuk “Dari Buku ke Perubahan: Buku Anak, Ecocritical Literacy, dan Aksi Bersama” yang digelar Rintik Publishing di panggung Children Book Festival, Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 5 Oktober 2026.
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber dari bidang literasi anak, pendidikan, serta kesehatan mental anak dan remaja. Para pembicara membahas peran buku sebagai media untuk mengenalkan persoalan lingkungan sekaligus membangun kepedulian anak terhadap kondisi bumi.
Dalam kesempatan tersebut, Rintik Publishing, yang berada di bawah PT GTS Literanesia Adabi, memperkenalkan buku Pulihkan Kembali: Kisah Dua Kota, Satu Sungai, dan Harapan untuk Bumi. Buku ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari Turn It Around karya Jenny Molendyk Divleli dan Somaye Mohamady.
Melalui cerita tentang dua kota yang terpisahkan oleh sebuah sungai, buku tersebut mengajak anak dan orang dewasa memahami bagaimana pilihan serta perilaku manusia dapat memengaruhi lingkungan dan kehidupan orang lain.
Editor buku Pulihkan Kembali, Ahliana Afifati Sani, menjelaskan bahwa buku tersebut menggunakan teks dan elemen visual untuk menggambarkan keterhubungan manusia dengan lingkungan.
Salah satu teknik yang digunakan ialah dynamic negative space, yakni pemanfaatan ruang kosong pada halaman buku yang berubah mengikuti perkembangan cerita. Pada awalnya, ruang kosong menjadi batas antara dua kota. Ketika kerusakan lingkungan terjadi, perubahan visual menggambarkan dampak yang muncul. Ruang kosong kemudian bergerak kembali ke arah berlawanan untuk menunjukkan proses pemulihan.
“Anak-anak akan melihat bahwa apa yang kita suarakan dan upayakan dapat membawa dampak nyata. Dalam buku ini, pergeseran white space menggambarkan bagaimana upaya kolektif dapat mengembalikan keseimbangan yang sempat terganggu,” tutur Ahliana.
Psikiater anak dan remaja, Fransiska Kaligis, mengatakan orang dewasa perlu menyesuaikan cara penyampaian isu lingkungan dengan usia dan kemampuan anak dalam memahami informasi. Pendampingan yang tepat membantu anak mengenali persoalan tanpa menimbulkan ketakutan berlebihan.
“Sebenarnya (membahas isu lingkungan dengan anak ini) susah-susah gampang, mungkin kita bisa sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak mencerna. Misal, bahasanya kita sesuaikan, jujur apa adanya, sampaikan bukan dengan menakut-nakuti, tetapi kita ajak anak berdiskusi, 'Apa ya yang bisa kita lakukan?', dan buku bisa menjadi media yang baik untuk memperkenalkan isu kompleks agar lebih mudah dicerna,” ujar psikiater yang akrab disapa dr. Cika tersebut.
Menurut dia, buku dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk membuka percakapan tentang persoalan lingkungan. Melalui cerita dan ilustrasi, anak dapat memahami isu yang kompleks secara bertahap sekaligus mengenali tindakan sederhana yang dapat mereka lakukan.
Pendiri Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci), Ajeng Satiti Ayuningtyas, menambahkan bahwa keluarga dan komunitas literasi memiliki peran penting dalam menanamkan kepedulian lingkungan.
Menurut Ajeng, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya melalui penjelasan atau teori. Anak juga belajar dari kebiasaan yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti memilah sampah dan mematikan lampu ketika tidak digunakan.
Komunitas literasi juga dapat menjadi ruang bagi orang tua, khususnya ibu, untuk bertukar informasi, berbagi pengalaman, dan saling mendukung dalam membangun kebiasaan ramah lingkungan di rumah.
Diskusi yang dipandu moderator Reisya Callista tersebut diikuti orang tua, pendidik pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD), pustakawan, serta pegiat komunitas literasi anak.
Buku Pulihkan Kembali juga mengenalkan perspektif keadilan lingkungan (environmental justice) melalui gambaran dua kota yang berbagi aliran sungai.
Cerita tersebut menggambarkan bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak selalu berhenti di tempat tindakan itu terjadi. Sampah dan zat pencemar yang masuk ke sungai di wilayah hulu, misalnya, dapat terbawa ke hilir dan memengaruhi masyarakat yang tinggal jauh dari sumber pencemaran.
Persoalan lingkungan karena itu dapat melampaui batas wilayah, mulai dari lingkungan tempat tinggal hingga antarkota dan antarnegara. Melalui ilustrasi sungai, anak dapat belajar bahwa tindakan seseorang berpotensi memengaruhi kehidupan orang lain.
Gagasan tersebut juga berkaitan dengan literasi eko-kritis, yang mengajak pembaca memahami persoalan lingkungan bukan semata-mata sebagai masalah alam, melainkan juga sebagai persoalan yang berkaitan dengan perilaku manusia, kondisi sosial-ekonomi, kebijakan, dan tanggung jawab bersama.
Perkembangan kognitif anak usia 7–10 tahun juga menjadi pertimbangan dalam memilih pendekatan pembelajaran. Pada rentang usia tersebut, anak umumnya mulai memahami hubungan sebab-akibat melalui situasi konkret.
Cerita dan ilustrasi dapat membantu mereka melihat hubungan antara tindakan dan dampaknya secara lebih nyata. Dengan demikian, buku anak dapat menjadi pintu masuk untuk membangun pemahaman mengenai krisis lingkungan sekaligus mengenalkan pentingnya kerja sama dalam memulihkan kondisi alam.
Melalui diskusi tersebut, Rintik Publishing mengangkat peran literasi sebagai salah satu sarana untuk membangun kepedulian lingkungan sejak dini, dengan tetap memperhatikan kebutuhan emosional dan tahap perkembangan anak.