Senin 25 Sep 2023 22:17 WIB

Thrifting Bisa Jadi Cara Anak Muda Jaga Lingkungan, Ini Alasannya

Thrifting atau membeli barang bekas lebih baik daripada membeli barang baru.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Pasar pakaian bekas impor (thrifting).
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Pasar pakaian bekas impor (thrifting).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Thrifting telah menjadi sesuatu yang digandrungi, terutama di kalangan muda. Thrifting merupakan aktivitas membeli atau mencari barang-barang bekas dengan tujuan untuk kembali dipakai. Selain lebih ramah di kantong, thrifting bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga lingkungan. 

Dilansir Good Will, Senin (25/9/2023), berikut beberapa alasan mengapa belanja barang bekas lebih baik daripada membeli barang baru.

Baca Juga

1. Menekan konsumsi sumber daya

Proses produksi barang-barang baru membutuhkan banyak sumber daya, terutama di dunia fast fashion dan hiper-konsumerisme saat ini. Beberapa sumber daya alam ini digunakan dengan kecepatan yang lebih cepat daripada yang dapat diproduksi dan tidak dapat diperbarui.

Untuk memproduksi pakaian, elektronik, dan barang-barang rumah tangga lainnya, dibutuhkan banyak air dan energi. Jadi, ketika seseorang melakukan thrift, itu artinya dia telah bisa menekan pemborosan energi tersebut.

 

2. Mengurangi limbah

Secara keseluruhan, thrifting juga berkontribusi meminimalkan limbah. Berbelanja barang bekas adalah cara yang bagus untuk memanfaatkannya, alih-alih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Dalam masyarakat konsumerisme seperti sekarang, orang kerap membeli barang yang tidak dibutuhkan, dan dengan barang-barang murah dan mudah didapat, mereka lebih mudah membuangnya.

Untuk membantu mengurangi dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan, Anda dapat memilih untuk menyumbangkan daripada membuangnya dan mempertimbangkan untuk mencari barang bekas saat membutuhkannya lagi. Dengan melakukan thrifting, Anda mencegah barang-barang tersebut terbuang sia-sia dengan memberikannya “kehidupan baru”.

 

3. Mengurangi polusi bahan kimia

Dibutuhkan banyak proses produksi dan pengolahan untuk dapat menciptakan produk baru. Dalam hal pakaian, tekstil perlu ditanam menggunakan pestisida, dan kemudian kain-kain tersebut ditambahkan bahan kimia dan pewarna yang keras, yang tidak hanya berbahaya bagi lingkungan tetapi juga bagi kesehatan.

Ketika kita membuat kain sintetis, gas rumah kaca dilepaskan yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Bahan kimia ini mencemari air, tanah, dan udara, yang dapat berdampak pada satwa liar dan kualitas sumber daya yang kita gunakan untuk bertahan hidup. Racun juga dapat mengganggu hormon dan mikrobioma usus manusia. Dengan memilih membeli barang bekas, Anda tidak mendukung permintaan produk baru yang dibuat menggunakan bahan kimia ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement