Senin 30 Oct 2023 21:37 WIB

Ayam Ternak Sumbang Emisi Gas Rumah Kaca?

Daging ayam ternak juga memiliki jejak karbon meski rendah.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Peternakan ayam dinilai juga menyumbang emisi gas rumah kaca.
Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Peternakan ayam dinilai juga menyumbang emisi gas rumah kaca.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ayam ternak menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK), dengan satu kilogram daging ayam menghasilkan 6 kilogram karbon, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Meskipun emisi yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan daging sapi, namun para peternak ayam mulai mencari cara mengembangkan peternakan yang lebih berkelanjutan.  

Seorang peternak ayam asal Prancis, Stephanie Dahirel, telah mengembangkan peternakan ayam secara intensif di Brittany, Prancis Barat. Sistem peternakan intensif merupakan pemeliharaan ternak dalam kandang khusus, yang  dinilai lebih ramah lingkungan dengan tetap mempertahankan profit.

Baca Juga

Sebanyak 30 ribu ekor ayam yang ada di dalamnya akan bertambah tiga kali lipat dalam waktu kurang dari satu bulan, dan dagingnya akan memiliki jejak karbon yang rendah.

"Tujuannya adalah untuk menghasilkan daging yang berkualitas, dalam waktu sesingkat mungkin, dengan jumlah makanan sesedikit mungkin," kata Dahirel seperti dilansir Phys, Senin (30/10/2023).

 

Pada usia 20 hari, beratnya sudah mencapai satu kilogram atau 20 kali lebih berat dari saat lahir. Adapun saat disembelih pada usia 45 hari, beratnya akan mencapai lebih dari tiga kilogram.

Dalam satu tahun, Dahirel bisa menghasilkan dua juta snow white chicken, dimana itu sebagian besar dibiakkan untuk nugget McDonald's. Sistem peternakan intensif ini bisa menghasilkan ayam lebih banyak dua kali lipat dari peternakan tradisional.

“Peternakan intensif adalah sistem yang paling efisien dan rasional untuk memproduksi daging dari sudut pandang ekonomi dan ekologi,” jelas dia.

Namun ada juga kekurangannya. Terlepas dari rendahnya emisi yang diklaimnya untuk ayam-ayamnya, memproduksi biji-bijian untuk memberi makan mereka membutuhkan lahan yang luas, pupuk sintetis, dan pestisida.

Semua itu berdampak pada keanekaragaman hayati dan kualitas air. Bahkan, ganggang hijau yang mekar di pantai-pantai di daerah asal Dahirel, Brittany, sebagian disebabkan oleh produksi daging babi, unggas, dan produk susu yang intensif-telah menyebabkan protes lingkungan dan dikaitkan dengan beberapa kematian.

Dahirel memelihara 20 ekor ayam per meter persegi, yang dipelihara di atas litter di mana kotorannya diserap oleh serutan kayu dan sekam soba. Ayam yang sakit atau tidak normal dibunuh untuk menghindari penularan lebih lanjut dan karena rumah potong otomatis membutuhkan produk yang homogen.

"Tentu saja mereka bukan robot, tetapi kami mencari homogenitas," kata peternak tersebut.

Ayam mungkin merupakan protein hewani yang optimal untuk emisi karbon, tetapi belum tentu untuk alam. Hal itu diungkap oleh Pierre-Marie Aubert, dari lembaga think tank pembangunan berkelanjutan IDDRI Prancis.

"Jika kita hanya berpikir dalam hal emisi CO2 per kilogram daging, kita semua akan mulai makan ayam. Namun, berpikir bahwa itu adalah solusinya adalah kesalahan besar," ujar dia.

Aubert mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan konsumsi ayam yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dan menjadikannya salah satu daging yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Itu lantaran daging ayam, tidak memiliki pantangan agama dan budaya seperti daging babi dan sapi.

“Karena jumlah yang mengonsumsinya sangat banyak, emisi yang dihasilkan pun pasti banyak. Jadi kita harus bisa mengurangi semua konsumsi daging," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement