Selasa 05 Dec 2023 16:30 WIB

Bengkel Hijrah Iklim 2.0 Mulai Digelar di Yogyakarta

Para peserta sudah punya inisiatif iklim masing-masing namun belum saling terhubung.

Para peserta mendengarkan paparan dari pemateri pada event Bengkel Hijrah Iklim (BHI) 2.0 di Yogyakarta, Selasa (5/12/2023).
Foto: Republika/Fernan Rahadi
Para peserta mendengarkan paparan dari pemateri pada event Bengkel Hijrah Iklim (BHI) 2.0 di Yogyakarta, Selasa (5/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Event Bengkel Hijrah Iklim (BHI) 2.0 akhirnya mulai digelar pada Selasa (5/12/2023). Acara yang sebelumnya direncanakan digelar 4-9 Desember di Salatiga, Jawa Tengah, tersebut akhirnya berpindah lokasi ke Yogyakarta karena alasan cuaca buruk di lokasi semula.

Acara yang digelar untuk kali kedua setelah penyelenggaraan pertama di Bogor, Jawa Barat, itu dihadiri oleh sebanyak 20 peserta. Setelah menjalani registrasi ulang peserta pada hari pertama, Senin (4/12/2023), para peserta akhirnya memulai rangkaian materi Selasa (5/12/2023).

"Pada hari pertama ini kami mengajak peserta untuk saling terhubung dengan peserta lain karena mereka kan dari berbagai daerah dan belum mengenal satu sama lain," ujar pemateri dari Aktivasia, Rubby Emir, kepada Republika, di sela-sela acara, Selasa.

Rubby mengungkapkan bahwa para peserta dari berbagai wilayah di Indonesia tersebut sudah memiliki inisiatif iklimnya masing-masing namun belum saling terhubung. Sehingga, menurut dia, penting bagi mereka untuk saling terhubung satu sama lain melalui materi pengorganisasian komunitas.

"Pengorganisasian komunitas ini kan soal menyatukan kekuatan dari individu-individu yang kalau sendirian lemah untuk mengimbangi kekuatan besar yang ada,” kata Rubby.

Rubby berharap selepas materi ini para peserta lebih memahami mengenai konsep pengorganisasian komunitas. Karena biasanya solusi-solusi yang dibuat oleh para aktivis muda seringkali terlepas dari konsep sistemnya. "Jadi mereka sifatnya masih individu, skalanya kecil, dan tidak melakukan analisis-analisis keterhubungan dengan sistem atau kekuasaan yang lebih besar," kata Rubby.

Padahal, kata Rubby, yang dihadapi oleh para aktivis lingkungan muda tersebut adalah kekuatan-kekuatan besar seperti korporasi atau kekuatan-kekuatan besar lain yang punya kekuatan uang dan politik. "Sementara kita kan warga biasa. Bagaimana kita bisa mengimbangi kalau kita tidak bersatu?" katanya.

Berdasarkan pengamatan Republika, pada materi pertama Rubby membagikan kepada para peserta bahwa salah satu cara untuk mengorganisir komunitas adalah lewat cerita. "Dengan cerita kita bisa menggerakkan manusia-manusia lain karena cerita adalah salah satu karakteristik spesies kita. Dorong emosi mereka karena manusia pada dasarnya bukan makhluk logis tapi makhluk emosional,” katanya.

Selain Rubby, agenda hari pertama juga berisi materi dari Gus A’ak, aktivis LPBI NU yang berbicara tentang Krisis Iklim sebagai Krisis Sistemik.  "Materi ini diberikan untuk berbagi perspektif ajaran Islam tentang aksi-aksi lingkungan. Karena sudah banyak hadis yang menyatakan bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi harus menjadi solusi lingkungan," kata Rubby.

Selain Rubby dan Gus A’ak, pembicara lain yang akan mengisi Bengkel Hijrah Iklim 2.0 ini di antaranya adalah Rara Salsabila (aktivis), M Rifandi (MLH Muhammadiyah), Kholida Anissa (IPM & Alumni BHI), serta Aldy Permana (Purpose).

Pada hari kedua, Rabu (6/12/2023) para peserta kembali akan mendapatkan materi yakni Krisis Iklim dalam Perspektif Keadilan, Ekologi Politik Islam, Active Citizenship, Mengembangkan Strategi Kampanye/Solusi Iklim, dan Ngaji Iklim: Tauhid dan Akhlak Lingkungan.

Bengkel Hijrah Iklim merupakan satu inisiatif dari MOSAIC yang bertujuan memberdayakan dan menyiapkan anak muda Islam untuk menjadi pemimpin dalam solusi iklim di Indonesia. Tahun ini, Bengkel Hijrah Iklim mengangkat tema ‘Anak Muda dan Aksi Perubahan Iklim di Akar Rumput’.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement