Senin 11 Dec 2023 07:15 WIB

Polusi Udara Terus Buruk, Pakistan Hadapi Krisis Kesehatan Parah

Pakistan alami peningkatan 50 persen lonjakan pasien anak dengan masalah pernapasan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Pakistan alami polusi udara yang terus memburuk.
Foto: AP/Manish Swarup
Pakistan alami polusi udara yang terus memburuk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan, krisis kesehatan sedang terjadi, dengan anak-anak menanggung beban terberat dari masalah polusi udara yang parah. Rumah sakit di kota ini dipenuhi oleh pasien anak-anak, yang berjuang untuk bernapas di tengah kabut asap beracun yang telah menyelimuti daerah tersebut selama berpekan-pekan.

Ruang gawat darurat pediatrik menjadi pemandangan yang menyedihkan, dengan para orang tua yang dengan cemas memegang alat nebulisasi di wajah anak-anak mereka. Antrean untuk mendapatkan perawatan juga semakin panjang seiring dengan memburuknya kualitas udara.

Baca Juga

Lahore, yang dulunya dikenal sebagai kota taman, kini, sayangnya, mendapatkan gelar sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Masalahnya semakin parah pada bulan-bulan yang lebih dingin, mengingat udara dingin lebih padat dan bergerak lebih lambat dibandingkan udara hangat. Kepadatan ini berarti bahwa udara dingin memerangkap polusi namun tidak menghilangkannya, sehingga memperburuk masalah kesehatan, terutama di kalangan anak-anak.

Pejabat kesehatan telah mengamati peningkatan 50 persen yang mengejutkan pada pasien anak dengan masalah pernapasan dalam sebulan terakhir saja. Dr Maria Iftikhar, petugas pendaftaran senior di departemen pediatrik rumah sakit Sir Ganga Ram, melaporkan lonjakan yang signifikan pada pasien yang datang dengan infeksi saluran pernapasan atas dan bawah.

 

"Ini menjadi jauh lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya dan ini mempengaruhi kesehatan anak-anak," kata Iftikhar, seperti dilansir Our Green Planet, Senin (11/12/2023).

Seiring dengan suhu yang lebih dingin di bulan November, tingkat kualitas udara meningkat. 24 dari 30 hari terakhir memiliki kualitas udara yang 'berbahaya' atau 'sangat tidak sehat', menurut Swiss Group IQAir.

Situasi di Lahore mencerminkan krisis global, dengan polusi udara luar ruangan yang berkontribusi terhadap jumlah kematian yang mengejutkan di antara anak-anak di seluruh dunia. Di Pakistan, polusi udara berada di antara lima penyebab utama kematian.

Sistem kesehatan provinsi berada di bawah tekanan yang luar biasa, dengan rumah sakit dalam keadaan siaga tinggi, mendedikasikan tempat tidur dan ventilator untuk kasus-kasus pernapasan darurat. Meskipun demikian, rumah sakit anak kewalahan, berjuang untuk memenuhi permintaan perawatan yang terus meningkat.

Pihak berwenang telah mengidentifikasi beberapa penyebab awan beracun ini, termasuk pembakaran tanaman, kualitas bahan bakar yang buruk pada kendaraan, dan aktivitas industri. Upaya untuk mengatasi masalah ini termasuk penguncian parsial, kampanye promosi masker, dan menjangkau negara-negara tetangga untuk solusi kolaboratif.

Akan tetapi, tantangannya tetap menakutkan. Menghentikan praktik-praktik seperti pembakaran tanaman tanpa membahayakan ketahanan pangan membutuhkan investasi yang signifikan dalam peralatan khusus untuk para petani. Krisis Lahore adalah pengingat yang jelas akan kebutuhan mendesak akan tindakan lingkungan untuk melindungi mereka yang paling rentan dalam masyarakat kita.

Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) menyatakan bahwa polusi udara di luar ruangan secara global berkontribusi terhadap 154 ribu kematian anak-anak berusia di bawah lima tahun pada tahun 2019. Di Pakistan, polusi udara merupakan salah satu dari lima penyebab kematian tertinggi di antara seluruh populasi dan anak-anak adalah yang paling parah terkena dampaknya, bersama dengan orang tua.

"Anak-anak secara fisiologis lebih rentan terhadap polusi udara dibandingkan orang dewasa karena otak, paru-paru dan organ-organ lainnya masih berkembang," kata UNICEF.

Empat lockdown parsial telah dilakukan sejak awal November dan juga kampanye untuk mempromosikan masker. Pembakaran tanaman, yang dilakukan oleh para petani untuk menghilangkan sisa-sisa tanaman padi untuk ditanami gandum, dinilai sebagai kontributor utama terhadap masalah ini. Begitu juga dengan bahan bakar berkualitas rendah pada kendaraan dan aktivitas konstruksi dan industri.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement