Sabtu 13 Jan 2024 00:20 WIB

Inggris akan Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Berskala Besar

Proyek ini akan menjadi ekspansi terbesar Inggris selama 70 tahun terakhir.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
 Pembangkit listrik tenaga nuklir (ilustrasi)
Foto: EPAEPA-EFE/RONALD WITTEK
Pembangkit listrik tenaga nuklir (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Inggris sedang menjajaki rencana baru untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir berskala besar. Para menteri mengatakan bahwa proyek ini akan menjadi ekspansi terbesar di sektor ini dalam 70 tahun terakhir.

Pembangunan pembangkit nuklir yang baru dilaporkan akan melipatgandakan pasokan energi pada tahun 2050. Namun demikian, ada beberapa kekhawatiran yang muncul karena proyek-proyek nuklir yang sudah berjalan mengalami keterlambatan, over budget, hingga protes masyarakat.

Baca Juga

Peta Jalan Nuklir Sipil (Civil Nuclear Roadmap) tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian energi Inggris dengan mengeksplorasi lokasi baru untuk pembangkit listrik tenaga nuklir lain, dengan ukuran dan skala pembangkit listrik senilai 30 miliar pound sterling seperti yang sedang dibangun di Hinkley Point di Somerset dan yang akan dibangun di Sizewell di Suffolk.

Beberapa sumber mengatakan bahwa kandidat utama untuk pembangunan pembangkit baru, termasuk Wylfa di Anglesey atau Moorside di Cumbria. Pemerintah juga berencana menggelontorkan dana segar sebesar 300 juta poundsterling untuk memproduksi bahan bakar reaktor nuklir di Inggris, yang saat ini hanya diproduksi secara komersial di Rusia. 

 

Secara keseluruhan, pemerintah kini telah mengalokasikan lebih dari 1 miliar poundsterling untuk proyek Sizewell C, yang merupakan pengembangan dari penyertaan modal awal sebesar 700 juta poundsterling sebagai bagian dari rencana untuk mengembangkan sektor energi nuklir di Inggris dengan cepat.

Asosiasi Energi Terbarukan dan Teknologi Bersih (REA) mengatakan bahwa pengembangan semua energi bersih perlu dipercepat. Tenaga nuklir saat ini menyediakan sekitar 15 persen listrik di Inggris, namun banyak reaktor yang sudah tua di negara ini yang akan dinonaktifkan dalam satu dekade ke depan.

Sementara itu, pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir hingga akhirnya bisa dimanfaatkan membutuhkan waktu yang relatif lama, sekitar 20 tahun. Bahkan konsultasi untuk Sizewell saja membutuhkan waktu 10 tahun.

Sebagian besar konstruksi belum dimulai, salah satunya karena ada protes yang kuat dari masyarakat setempat terhadap proyek ini. Pemerintah berharap dapat mengatasi masalah-masalah tersebut dengan merampingkan pengembangan pembangkit listrik baru. Dengan memperkenalkan regulasi yang lebih cerdas, pemerintah berharap akan dapat membangun pembangkit listrik tenaga nuklir baru dengan lebih cepat.

Jack Abbott, seorang ahli di sektor energi bersih, yang juga merupakan kandidat Partai Buruh di daerah pemilihan yang berdekatan dengan Sizewell, mengatakan bahwa pemerintah bekerja dengan sangat lambat dalam mengembangkan tenaga nuklir.

"Empat belas tahun dan tidak ada satu pun site baru yang dibuka, meskipun mewarisi 10 site yang telah disetujui dari pemerintahan Partai Buruh terakhir. Partai Buruh mendukung perluasan armada tenaga nuklir Inggris, yang harus menjadi bagian penting dari bauran energi masa depan kita," ujar Abbott seperti dilansir BBC, Sabtu (13/1/2024).

REA juga bersikap skeptis. Namun, asosiasi ini mengapresiasi pemerintah atas rencananya untuk memberikan dana sebesar 300 juta poundsterling untuk memproduksi bahan bakar reaktor di Inggris.

“Kita perlu mempercepat penyebaran semua sumber energi bersih, terutama energi terbarukan dari berbagai sumber, serta mendukung peluncuran teknologi bersih yang sangat dibutuhkan, penyimpanan energi yang bekerja pada semua skala dan durasi,” kata Direktur kebijakan REA Frank Gordon.

Namun pemerintah mengatakan bahwa rencana tersebut juga akan mendukung ribuan pekerjaan, serta berpotensi menggeser Rusia dari pasar global. Perdana Menteri Rishi Sunak mengatakan bahwa nuklir adalah penangkal yang sempurna untuk tantangan energi yang dihadapi Inggris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement