REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Negara-negara dari berbagai kawasan di dunia memperkuat kerja sama di bidang energi terbarukan. Kepala regulator energi Cina bertemu dengan pejabat Pemerintah Chile untuk membahas kerja sama di bidang energi terbarukan, listrik, dan penyimpanan negeri.
Pemimpin-pemimpin Uni Eropa juga bertemu dengan pemimpin negara-negara Asia Tengah untuk membahas iklim di Samarkand, Uzbekistan. Di Beijing, Kepala Administrasi Energi Nasional (NEA) Cina Wang Hongzhi mengatakan Cina bersedia mendukung perusahaan dua negara untuk memperkuat kerja sama bilateral di bidang energi.
Dalam pernyataannya pada Selasa (1/3/2024), NEA mengatakan Chile yang diwakili Menteri Energi Chile Diego Pardow, berharap dapat belajar dari pengalaman Cina dalam energi bersih dan keamanan energi untuk meningkatkan kebijakan yang relevan dan menarik lebih banyak investasi Cina.
Chile pemasok utama tembaga dan litium yang penting untuk transisi energi. Pada Februari lalu, negara mengalami pemadaman listrik besar-besaran yang disebabkan kegagalan saluran transmisi. Tahun lalu Chile juga mengalami pemadaman listrik yang berkepanjangan.
Sementara itu, dikutip dari Eureporter, pemimpin Uni Eropa dan Asia Tengah, dan para ahli iklim dan pembangunan, akan berkumpul di forum iklim internasional di Samarkand, Uzbekistan. Forum ini bertujuan memperkuat kerja sama dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan di tengah tantangan iklim yang semakin meningkat di kawasan tersebut.
Forum yang bertajuk "Central Asia facing global climate challenges–consolidation for common prosperity" akan berlangsung pada 4-5 April. Kegiatan ini akan dihadiri Presiden Dewan Eropa António Costa, dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, serta pemimpin Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan sebagai tuan rumah.
Asia Tengah semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk polusi udara dan air, erosi tanah, dan penggurunan. Ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar fosil terus mendorong emisi, sementara bencana alam semakin sering dan parah, memberikan tekanan pada kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Uni Eropa merupakan mitra dagang kedua terbesar di kawasan ini dan investor terbesar, menyumbang lebih dari 40 persen dari total investasi asing. Dalam beberapa tahun terakhir, Uni Eropa menegosiasikan Perjanjian Kemitraan dan Kerjasama yang Ditingkatkan (EPCA) dengan semua negara Asia Tengah kecuali Turkmenistan untuk memperdalam hubungan politik dan ekonomi.