Rabu 20 Aug 2025 14:22 WIB

Talenta Lokal Berkarier di PT IMIP, Halau Rasa Inferior

Kemampuan beradaptasi, keinginan untuk terus berkembang dan konsisten, menjadi kunci.

Sejumlah pekerja lokal mengadakan rapat sebelum bekerja di salah satu pabrik di PT IMIP, Morowali, Rabu (20/8/2025).
Foto: Rilis
Sejumlah pekerja lokal mengadakan rapat sebelum bekerja di salah satu pabrik di PT IMIP, Morowali, Rabu (20/8/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, MOROWALI --  Dari Desa Solonsa, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, 10 tahun lalu, Sahrul Jaya, mengenang masa-masa awal diterima sebagai kru konveyor Divisi Rotary Kiln PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS) di kawasanIndonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Lulusan SMK Negeri 1 Bungku Tengahini menghalau rasa inferior di tengah superioritas tenaga kerja asing (TKA) saat itu. Pria yang kini berusia 27 tahun ini berproses meniti karirnya, dalam ketekunan. Sejak awal pengembangan kawasan IMIP, Jaya menegaskan, lingkungan kerjanya menciptakan relasi dan kompetisi antarkaryawan secara sehat dan terbuka. Selain dikonveyor, Jaya pernah bertugas pada bagian burner untuk memastikan suhu panas yang sesuai di tungku putar dalam proses pembakaran material bijih nikel. “Kami bertugas menjaga nyala api ini untuk menyesuaikan suhu dalam rotary kiln,” jelasnya, Rabu (20/8/2025) dalam siaran pers.

Tak ada rasa rendah diri, Jaya justru menunjukkan kinerja baik, bahkan kerap

dipercaya atasannya dari Tiongkok untuk mewakili departemen dalam berbagai

kesempatan, seperti kompetisi antardepartemen dan tenant. Setelah tiga tahun

bertugas di Divisi Rotary Kiln, pada 2018 hingga 2020 dia menjabat wakil foreman

untuk mengelola alur produksi dan manajerial karyawan. Kemudian pada 2020

ditugaskan sebagai foreman yang mengawasi aktivitas produksi.

Setahun berikut, Jaya “naik kelas” menjadi wakil supervisor dan berkesempatan

mengikuti pembelajaran industri dan bahasa Mandarin di Tiongkok. “Sepulang dari

China, November 2024 saya diangkat jadi supervisor sampai sekarang,” syukurnya.

Ia juga telah mencapai standar keterampilan bahasa Mandarin HSK 4 sehingga

diberi mandat sebagai Jubir antara karyawan Tiongkok dan Indonesia.

Tak hanya Jaya, warga lokal Morowali lainnya, terus memperlihatkan pendar dan

kapasitas mereka. Perusahaan di kawasan IMIP sangat terbuka bagi calon karyawan

dari beragam latar belakang pendidikan. Sosok lainnya adalah Dirjo Purwanto,

Wakil Manajer Departemen Bijih Nikel di PT Logistik Sumber Daya (LSDY).

Warga Desa Emea, Kecamatan Witaponda itu mencatat, dalam setahun bisa dua kali

naik jabatan dalam departemen tempat kerjanya. Memulai karier di IMIP pada

Oktober 2016, Dirjo awalnya bekerja sebagai operator dump truck di Departemen

Logistik PT GCNS. Setelah banyak belajar membangun hubungan antarkaryawan

dan mengembangkan sistem operasi alat berat yang minim risiko insiden, ia

dipercaya mengemban tugas sebagai wakil foreman (2019). Kemudian pada tahun

2020 menjadi foreman, mengepalai tim operasional produksi.

Pria berusia 37 tahun itu tak henti mensyukuri perjalanan karirnya selama sembilan

tahun bekerja di kawasan IMIP. Ia kian memahami dengan baik budaya dan karakter Tiongkok. “Orang China ini sebenarnya melihat karyawan lokal bukan dari skill (keterampilan) saja. Tapi kemauan bekerja,” ungkap lulusan SMK Negeri 1 Luwuk pada Jurusan Teknik Mekanik Otomotif 2007 tersebut.

Belakangan, Dirjo juga dituntut mampu mengkoordinasikan persoalan pribadi

karyawan dan mengantisipasinya agar tidak mengganggu kinerja. “Sebagai

pemimpin, saya itu mendapat tekanan dari atasan, juga dorongan dari bawahan.

Ketika kita tidak sabar, konflik akan muncul,” ujarnya.

Kini, anggota tim Departemen Bijih Nikel PT LSDY berjumlah 2.580 orang. Dirjo

pun mengupayakan relasi hangat antarkaryawan dengan menciptakan lingkungan

kerja yang memperhatikan kesehatan mental dan minim stress agar potensi insiden

dapat dicegah, termasuk saat mengoperasikan alat berat.

sumber : Rilis
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement