Ahad 07 Jun 2026 08:30 WIB

Emil Salim: Alam Harus Jadi Dasar Pembangunan Indonesia

Pembangunan yang hanya berorientasi pada eksploitasi SDA sudah tak relean.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Emil Salim.
Foto: Antara
Emil Salim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tokoh lingkungan hidup nasional Prof Emil Salim mengingatkan pentingnya menempatkan alam sebagai fondasi pembangunan Indonesia di tengah meningkatnya ancaman  krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema "Inspired by Nature. For Climate. For Our Future", Emil menilai pendekatan pembangunan yang hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, pembangunan harus mempertimbangkan karakteristik Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki ekosistem aktif sepanjang tahun.

Baca Juga

“Cara mengolah alam itu bukan dengan alam itu sebagai objek, tetapi bagaimana manusia tumbuh memanfaatkan alam tanpa merombak fungsi kehidupan alam itu,” kata Emil dalam pernyataannya, Sabtu (6/6/2026).

Pembina Yayasan KEHATI itu menilai hubungan antara manusia dan alam harus dibangun atas prinsip saling ketergantungan. Setiap sektor pembangunan, mulai dari pertanian hingga industri, perlu memperhitungkan keberlanjutan fungsi ekosistem agar tidak memicu kerusakan lingkungan yang lebih besar.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia merupakan aset penting yang menopang ketahanan iklim, pangan, air, kesehatan, hingga ekonomi masyarakat. “Investasi terbaik untuk masa depan adalah investasi pada pelestarian alam dan pemulihan ekosistem,” ujar Riki.

Emil juga menekankan pentingnya pendidikan lingkungan yang mampu membangun cara pandang menyeluruh terhadap hubungan manusia dan alam. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.

“Pandangan holistik, pandangan lingkungan hidup adalah inti untuk belajar bagi keberlangsungan hidup tanpa membunuh unsur hidup lainnya. Itulah cara pembangunan berwawasan lingkungan,” katanya.

Pesan serupa disampaikan pemerintah dalam puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar di Jakarta. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan dunia saat ini menghadapi tiga krisis utama, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

“Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam,” kata Jumhur.

Melalui tema nasional "Saatnya Bekerja untuk Iklim", pemerintah mendorong berbagai aksi lingkungan yang dapat dilakukan masyarakat, termasuk pemilahan sampah dari sumber sebagai langkah sederhana untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan keberhasilan agenda pembangunan nasional sangat bergantung pada kualitas lingkungan hidup yang terjaga.

“Presiden memiliki program yang sangat konkret terkait swasembada pangan, swasembada air, dan swasembada energi. Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila lingkungan hidup tidak terjaga dengan baik,” ujar Pambudy.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini memperkuat pesan bahwa perlindungan alam bukan hanya agenda lingkungan, melainkan prasyarat pembangunan jangka panjang. Seruan tersebut sejalan dengan pandangan Emil Salim yang menempatkan alam sebagai fondasi bagi keberlanjutan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan masa depan generasi mendatang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement