Ahad 19 Jul 2026 18:50 WIB

Eropa Harus Belajar dari Afrika Soal Gelombang Panas

Afrika berinovasi di pembangunan, arsitektur, pengembangan teknologi dan institusi.

Rep: Lintar Satria/ Red: Lida Puspaningtyas
Petugas pemadam kebakaran menggunakan selang air untuk mendinginkan suhu jalan di alun-alun kota Praha, Republik Ceko, Ahad (28/6/2026). Republik Ceko dilanda gelombang panas ekstrem (heatwave) yang memecahkan rekor suhu nasional tertinggi sepanjang masa. Suhu di negara tersebut sempat menembus angka 41,9 derajat celcius. Cuaca ekstrem ini merupakan bagian dari fenomena cuaca panas yang meluas di seluruh Eropa.
Foto: EPA/MARTIN DIVISEK
Petugas pemadam kebakaran menggunakan selang air untuk mendinginkan suhu jalan di alun-alun kota Praha, Republik Ceko, Ahad (28/6/2026). Republik Ceko dilanda gelombang panas ekstrem (heatwave) yang memecahkan rekor suhu nasional tertinggi sepanjang masa. Suhu di negara tersebut sempat menembus angka 41,9 derajat celcius. Cuaca ekstrem ini merupakan bagian dari fenomena cuaca panas yang meluas di seluruh Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa tahun terakhir Eropa selalu dilanda gelombang panas yang menurut ilmuwan tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim. Hal ini menunjukkan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di benua yang paling cepat panas di seluruh dunia kian mendesak.

Sementara perkembangan teknologi dan adaptasi untuk mengurangi dampak pemanasan global kerap menghadapi tantangan. Mulai dari pendanaan hingga pergeseran prioritas pemerintah.

Baca Juga

Menurut dua pengiat perubahan iklim dari African Climate Foundation, Eropa perlu mencari solusi dari berbagai pihak. Termasuk dari Afrika yang sudah lama menghadapi berbagai dampak perubahan iklim dengan dana yang terbatas.

Dalam opini mereka di Aljazirah, Program Officer untuk Adaptasi dan Resilensi African Climate Foundation Wole Hammond dan Kepala Program African Climate Foundation Ellen Davies menilai negara-negara maju di Eropa perlu belajar dari praktik adaptasi yang telah lama dikembangkan masyarakat Afrika.

Lonjakan panas di seluruh Eropa berdampak pada seluruh sektor dan membahayakan nyawa masyarakat di Eropa. Gelombang panas kini menjadi realitas baru di Inggris, Spanyol, Italia, Jerman dan Balkan.

"Kini pertanyaannya bukan lagi apakah negara-negara kaya membutuhkan adaptasi iklim, melainkan apakah mereka bersedia belajar dari kawasan yang telah beradaptasi terhadap ketidakstabilan iklim selama beberapa dekade," tulis keduanya, Sabtu (18/7/2026).

Namun masyarakat Afrika sudah lama hidup dengan suhu panas, kekeringan, dan infrastruktur yang rentan. Hammond dan Davies mengatakan sudah lama Afrika harus beradaptasi dengan berbagai kondisi yang menekan tanpa pendanaan atau sistem pemulihan memadai yang dimiliki negara-negara kaya di Eropa.

Perilaku pembangunan, arsitektur, pengembangan teknologi dan institusi di Afrika dapat menjadi pelajaran penting bagi Eropa. Hammond dan Davies mengakui tidak mungkin menerapkan apa yang dilakukan di Afrika ke Eropa.

"Solusi yang dirancang untuk Ouagadougou perlu dibentuk ulang, diuji, dan disesuaikan sebelum berhasil di Marseille atau Madrid. Geografi lokal, peraturan bangunan, budaya, dan tata kelola semuanya penting," tulis Hammond dan Davies.

photo
Truk pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk mendinginkan suhu saat cuaca panas melanda kota Praha, Republik Ceko, Ahad (28/6/2026). Republik Ceko dilanda gelombang panas ekstrem (heatwave) yang memecahkan rekor suhu nasional tertinggi sepanjang masa. Suhu di negara tersebut sempat menembus angka 41,9 derajat celcius. Cuaca ekstrem ini merupakan bagian dari fenomena cuaca panas yang meluas di seluruh Eropa. - (EPA/MARTIN DIVISEK)

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi