REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Guru Besar IPB University Budi Indra Setiawan mendorong pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ekosistem gambut dilakukan dengan pendekatan berbasis sains. Upaya tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh karena risiko kebakaran dipengaruhi berbagai faktor teknis maupun nonteknis yang saling berkaitan.
Menurut dia, kebakaran gambut tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor. Kondisi muka air tanah, cuaca kering, tingkat kelembapan gambut, ketersediaan bahan bakar di permukaan, kecepatan angin hingga keberadaan sumber api dapat meningkatkan risiko kebakaran.
"Kebakaran gambut merupakan persoalan yang kompleks. Penurunan muka air tanah, kondisi cuaca kering, berkurangnya kelembapan gambut, banyaknya bahan bakar di permukaan, kecepatan angin, serta keberadaan sumber api dapat saling berinteraksi dan meningkatkan risiko kebakaran," kata Budi saat ditanya media di Jakarta, dikutip Selasa (25/8/2026).
Ia menjelaskan, gambut yang kehilangan kelembapan akan semakin mudah terbakar. Api bahkan dapat merambat di bawah permukaan dan bertahan dalam waktu lama sehingga sulit dideteksi maupun dipadamkan hanya melalui penanganan dari permukaan.
Karena itu, pencegahan karhutla di kawasan gambut perlu dimulai dengan menjaga muka air tanah serta memperkuat pengelolaan tata air. Pengelolaan kanal dan sekat kanal, penyediaan embung dan sumber air, pemantauan kelembapan gambut, serta kesiapan sarana pemadaman menjadi bagian dari langkah yang perlu dilakukan di wilayah rawan.
Budi mengatakan pendekatan berbasis sains juga membutuhkan sistem pemantauan yang mampu memberikan gambaran kondisi lapangan secara cepat. Data cuaca, titik panas dan kondisi gambut perlu dipadukan melalui citra satelit, sensor muka air tanah, menara pantau, patroli darat hingga penggunaan pesawat nirawak atau drone.
"Teknologi pemantauan sangat membantu, tetapi data titik panas tetap harus diperiksa langsung di lapangan. Tidak semua titik panas merupakan kebakaran, dan tidak semua kebakaran dapat segera terlihat dari satelit, terutama jika api berada di bawah permukaan gambut," ujarnya.
Budi menilai informasi hasil pemantauan harus segera ditindaklanjuti karena api yang masih kecil lebih mudah dikendalikan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. Deteksi dini dan respons cepat menjadi bagian penting dalam menekan risiko kebakaran, terutama saat musim kemarau meningkatkan potensi gambut mengering.
Upaya pencegahan juga tidak cukup hanya mengandalkan aspek teknis. Perilaku manusia, kebiasaan membuka lahan, keterbatasan alternatif pengolahan lahan tanpa bakar, persoalan penguasaan lahan, konflik tenurial, tingkat kesejahteraan masyarakat hingga koordinasi antarpihak turut memengaruhi risiko terjadinya karhutla.
Pencegahan karhutla perlu disertai edukasi, pemberdayaan ekonomi masyarakat, penyediaan teknologi pembukaan lahan tanpa bakar, penguatan kelembagaan desa dan komunikasi risiko yang dilakukan secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap praktik pembakaran sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan.
Ahli tanah Basuki Sumawinata menambahkan penanganan setiap kejadian kebakaran juga harus dilakukan melalui pemeriksaan yang berbasis bukti. Informasi mengenai titik api di dalam atau sekitar suatu wilayah perizinan, menurut dia, belum cukup untuk langsung menentukan penyebab, pelaku maupun motif kebakaran.
"Pencegahan dan penanganan kebakaran harus didasarkan pada data dan verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kesimpulan tidak boleh dibuat hanya berdasarkan satu informasi atau hanya karena api ditemukan di dalam suatu areal," kata Basuki.
Menurut dia, pemeriksaan perlu mencakup titik awal api, arah angin, jenis tanah, riwayat penggunaan lahan, kondisi vegetasi, batas areal, akses menuju lokasi, rekaman patroli hingga langkah penanganan yang telah dilakukan. Seluruh informasi tersebut penting untuk membedakan lokasi terjadinya kebakaran, penyebab kebakaran, pihak yang memulai api dan pihak yang memiliki tanggung jawab melakukan pengendalian.
Kedua pakar menilai keberhasilan pencegahan kebakaran gambut membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi dan aparat penegak hukum. Pencegahan harus dilakukan sepanjang tahun melalui pengelolaan tata air, deteksi dini, penguatan kapasitas masyarakat, respons cepat serta komunikasi publik yang akurat dan berbasis bukti.