Ahad 30 Aug 2026 06:00 WIB

Kemarau Makin Kering, Pengelolaan Air Industri Perlu Berbasis Data

Krisis air menuntut industri lebih disiplin mengelola data.

Kegiatan peluncuran MyESICS, platform digital untuk pengelolaan data lingkungan, di Tangerang Selatan, Sabtu (29/8/2026).
Foto: Istimewa
Kegiatan peluncuran MyESICS, platform digital untuk pengelolaan data lingkungan, di Tangerang Selatan, Sabtu (29/8/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Fenomena El Nino meningkatkan risiko kekeringan dan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut membuat pengelolaan dan pemantauan penggunaan air di sektor industri semakin penting, termasuk untuk mengetahui sumber, volume penggunaan, hingga pengelolaan air limbah.

Perusahaan perlu memiliki data yang memadai untuk mengetahui pola penggunaan air dan mengidentifikasi potensi pemborosan. Data tersebut juga dibutuhkan untuk mendukung kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan sekaligus membantu perusahaan mengelola risiko operasional akibat keterbatasan air.

Baca Juga

Founder dan CEO MyESICS Ari Christiany mengatakan, pengelolaan lingkungan membutuhkan sistem data yang dapat membantu perusahaan memahami kondisi lingkungan secara lebih terukur.

“Perusahaan dan instansi tidak cukup hanya memiliki data, tetapi membutuhkan sistem yang dapat membantu mengolah data tersebut menjadi informasi yang mudah dipahami dan mendukung pengambilan keputusan,” ujar Ari dalam acara Grand Launching MyESICS di Tangerang, Sabtu (29/8/2026).

Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang pengembangan MyESICS, platform berbasis web yang menggabungkan pengelolaan, pemantauan, analisis, dan pelaporan data lingkungan.

Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas DLHK Provinsi Banten Wawan Wahyudi mengatakan, pengelolaan data lingkungan secara terpadu dapat membantu perusahaan dan tenaga profesional menangani berbagai kebutuhan lingkungan secara lebih terstruktur.

“Platform ini tentunya akan membantu banyak perusahaan dan profesional mengelola berbagai kebutuhan lingkungan secara lebih mudah, cepat, dan terstruktur,” ujarnya.

Pengelolaan air menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika risiko kekeringan meningkat. Perusahaan perlu mengetahui neraca air, pola penggunaan, serta perubahan volume pemakaian agar potensi ketidakefisienan dapat diketahui lebih awal.

Ari mengatakan, data penggunaan air juga tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pelaporan lingkungan. Menurut dia, data tersebut dapat digunakan untuk melihat efisiensi operasional dan mengantisipasi risiko yang muncul akibat perubahan kondisi lingkungan.

“Dalam kondisi seperti sekarang, pengelolaan air harus dilakukan secara terukur. Perusahaan perlu mengetahui neraca airnya, memahami pola penggunaan, dan dapat segera mengidentifikasi ketika terjadi ketidakefisienan,” katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengingatkan dampak El Nino terhadap kondisi musim kemarau di Indonesia. Fenomena tersebut dapat meningkatkan risiko kemarau yang lebih kering di sejumlah wilayah sehingga pengelolaan sumber daya air perlu menjadi perhatian lintas sektor.

Selain pengelolaan air, sistem data lingkungan juga mencakup kebutuhan pemantauan dan pelaporan berbagai aspek lingkungan serta akses terhadap informasi regulasi. Pengelolaan data yang lebih terstruktur dapat membantu perusahaan melihat kewajiban lingkungan sekaligus kondisi operasional secara lebih menyeluruh.

Dalam konteks tersebut, digitalisasi pengelolaan data lingkungan menjadi salah satu pendekatan yang berkembang di sektor industri. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas data, pemantauan di lapangan, serta kemampuan perusahaan menindaklanjuti informasi yang dihasilkan.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi