REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Bebadan Pangreksa Loka Keraton Ngayogyakarta, Raden Mas Gusthilantika Marrel Suryokusumo, menilai generasi muda perlu mengambil peran lebih besar dalam menjaga lingkungan dan mendorong penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG). Keterlibatan anak muda dinilai penting karena keberlanjutan lingkungan berkaitan langsung dengan masa depan daerah, masyarakat, hingga dunia.
Hal tersebut disampaikan oleh cucu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam acara ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026 yang mengusung tema Inspiring Impact di Hotel Borobudur, Senin (19/10/2026). Forum yang diselenggarakan Republika tersebut mempertemukan para pemangku kepentingan dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat untuk membahas penerapan prinsip keberlanjutan.
Pihaknya mengatakan kesadaran generasi muda terhadap persoalan lingkungan perlu diikuti keterlibatan langsung di lapangan. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan formal perlu dilengkapi dengan pengalaman praktik agar anak muda dapat berkontribusi secara nyata.
"Tentunya sekarang di generasi muda juga harus mulai perhatikan (lingkungan) karena itu berhubungan dengan masa depan, masa depan daerah kita, lingkungan kita dan lebih besarnya masa depan dunia kita juga," kata Marrel, Senin (19/10/2026).
Pihaknya menjelaskan pembentukan badan baru yang mengawasi lingkungan di Yogyakarta pada awal 2023 merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan perhatian terhadap persoalan lingkungan.
"Masa depan bumi ke depan seperti apa dan itu kenapa kami dari Yogya awal 2023 dibentuk badan baru yang mengawasi lingkungan karena kami ingin awareness soal lingkungan ini harus kita utamakan lagi di masa sekarang," katanya.
Menurut Marrel anak muda, baik yang masih menempuh pendidikan di tingkat SMP, SMA, perguruan tinggi maupun yang baru lulus, memiliki potensi menjadi penggerak utama dalam aksi pelestarian lingkungan. Namun, mereka perlu mendapatkan bekal pengetahuan sekaligus kesempatan untuk menerapkannya secara langsung.
"Menurut saya anak muda bisa menjadi peran utama karena apakah dari SMP SMA atau universitas atau yang baru lulus mereka bisa menjadi tonggak utama karena mereka yang harus bergerak di lapangan tapi pertama mereka harus belajar dulu ilmunya di ruang kelas,” katanya.
“Itu menurut saya sangat penting untuk memperkaya pengetahuannya memperkaya ilmunya tapi yang kalah tidak penting adalah praktik ke lapangannya karena banyak juga sebenarnya di luar sana banyak ilmu-ilmu itu hanya bisa didapatkan di lapangan,” katanya menambahkan.
Pihaknya menilai, persoalan yang dihadapi generasi muda bukan semata-mata kurangnya kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya sebagian dari mereka justru membutuhkan akses, dukungan, dan arahan agar dapat memulai aksi nyata.
“Menurut saya anak-anak muda sekarang lebih aware dengan value dengan nilai-nilai luhur, nilai lingkungan tapi perlu didorong lagi ke lapangan. Menurut saya anak muda sudah punya ilmunya tapi perlu kita akses yang lebih dan dorongan yang lebih dan support yang lebih untuk masuk ke hal-hal lingkungannya kadang anak muda yang saya temui hanya nggak tahu harus mulai dari mana gitu," katanya.
Oleh sebab itu, Marrel mendorong berbagai pihak untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi anak muda agar terlibat dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Langkah tersebut tidak harus dimulai melalui program berskala besar, tetapi dapat dilakukan dari lingkungan terdekat.
"Kadang kita hanya perlu membukakan pintu-pintunya agar mereka bisa mengerti mulainya dari mana yang kadang mereka khawatir harus memulainya dari situasi yang besar padahal kadang bisa dimulai dari sesuatu yang kecil di lingkungan masing-masing," katanya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin mengatakan, agenda keberlanjutan harus bergerak melampaui komitmen dan wacana menuju aksi konkret yang dampaknya dapat diukur dan dirasakan masyarakat.
"Di tengah keprihatinan kita terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan berbagai kerusakan lingkungan yang terus terjadi, agenda keberlanjutan tidak bisa lagi ditunda. Kita membutuhkan langkah konkret dan keberanian untuk mencegah kerusakan lingkungan semakin meluas. Melalui ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026, kami ingin mendorong transparansi, dan memperkuat kolaborasi, agar keberlanjutan menjadi aksi nyata, bukan sekadar narasi,” ujar Andi.
Selain forum kepemimpinan, Republika juga menyelenggarakan ESG NOW Awards 2026 yang terbagi dalam kategori Government Track dan Corporate Track. Penghargaan tersebut ditujukan untuk mengapresiasi pemerintah daerah dan entitas bisnis yang dinilai berhasil mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam program maupun strategi organisasi.
Melalui forum dan penghargaan ini, Republika mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperluas praktik baik dalam pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola yang berkelanjutan.