Jumat 30 Oct 2026 19:06 WIB

BPGMN Tanam Bambu dan Jelutung untuk Pulihkan Gambut

Penanaman awal menggunakan 300 bibit bambu di lahan satu hektare.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Penanaman bambu dan jelutung di lahan gambut Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, Jumat (30/10/2026), untuk mendukung pemulihan ekosistem dan ekonomi masyarakat.
Foto: BPGMN
Penanaman bambu dan jelutung di lahan gambut Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, Jumat (30/10/2026), untuk mendukung pemulihan ekosistem dan ekonomi masyarakat.

JAKARTA -- Pemulihan ekosistem gambut tidak hanya membutuhkan upaya pencegahan kebakaran, tetapi juga pengembangan kegiatan ekonomi yang mendukung penghidupan masyarakat sekitar. Penanaman bambu dan jelutung dengan sistem tumpang sari mulai diuji di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, sebagai pendekatan untuk menjaga kelestarian gambut sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.

Uji penanaman tersebut dilakukan di lahan percontohan atau demplot plasma Kelurahan Kedaton, Kayuagung, Kabupaten OKI, Jumat (30/10/2026). Kedua tanaman dipilih karena memiliki potensi ekologis dan ekonomi yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan lahan gambut.

Baca Juga

Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Satyawan Pudyatmoko mengatakan, kawasan tersebut dapat menjadi contoh pemulihan ekosistem gambut yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat kebakaran berulang. Kebakaran tercatat pernah terjadi pada 1997 atau 1998 dan kembali pada 2006.

Setelah dilakukan restorasi vegetasi, sedikitnya 30 spesies pohon telah tumbuh di kawasan tersebut. Satyawan menilai keberhasilan pemulihan vegetasi di OKI dapat menjadi pembelajaran untuk diterapkan di wilayah gambut lainnya.

“Ini menjadi pembelajaran yang sangat menarik bagi kami. Ternyata restorasi ekosistem gambut bisa dilakukan dengan sangat baik, seperti yang dicontohkan di Kabupaten OKI, Sumatera Selatan. Model ini nantinya akan kita replikasi di beberapa tempat,” kata Satyawan dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).

Menurut Satyawan, pengelolaan gambut di Sumatera Selatan menghadapi tantangan besar karena sekitar 10 persen lahan gambut Indonesia berada di provinsi tersebut. Pencegahan kebakaran dan pemulihan kawasan membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, TNI-Polri, serta masyarakat desa.

Satyawan menekankan pentingnya memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan gambut. Dengan demikian, kegiatan ekonomi dapat berjalan tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.

“Salah satu kunci agar gambut tetap lestari adalah memberikan dampak yang baik kepada masyarakat. Kalau gambut terkelola dan ada kegiatan ekonomi yang berjalan, ekosistemnya akan bermanfaat dan risiko kebakaran bisa ditekan seminimal mungkin,” ujar Satyawan.

Satyawan juga menyinggung kearifan lokal masyarakat gambut, salah satunya pemeliharaan kerbau rawa yang dahulu menjadi sumber penghidupan warga. Berkurangnya aktivitas tersebut dinilai turut mengubah pola pemanfaatan lahan rawa.

Dalam pengembangan tanaman, jelutung dipilih karena mampu tumbuh di lahan gambut tanpa memerlukan pengeringan ekosistem. Tanaman tersebut juga memiliki potensi ekonomi melalui produksi getah, meskipun membutuhkan waktu relatif panjang sebelum dapat disadap.

Sementara itu, bambu dikembangkan untuk menggabungkan fungsi ekologis dengan pemanfaatan hasil tanaman. Ketua Umum Komunitas Pemuda Ekonomi Hijau Indonesia (KPEHI) Agi Diantoro mengatakan, penanaman bambu diharapkan dapat membantu menjaga kelembapan gambut sekaligus mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Bambu ini salah satu nature-based solution untuk membantu mencegah kebakaran hutan dan lahan. Satu rumpun bambu dapat menyimpan air hingga sekitar 5.000 liter. Akarnya juga membantu menjaga kelembapan tanah gambut. Ini menjadi salah satu bentuk mitigasi awal yang ingin kami kembangkan,” ujarnya.

Selain fungsi ekologis, KPEHI menyiapkan pengembangan industri pengolahan bambu melalui kerja sama dengan pelaku industri mebel binaannya. Hasil panen nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku furnitur, lantai (flooring), hingga produk interior.

Agi menjelaskan, pengembangan tersebut menggunakan pendekatan ekonomi kerakyatan dengan melibatkan masyarakat desa penyangga kawasan gambut. Warga akan mendapat pembinaan untuk mengelola lahan dan mengolah hasil tanaman menjadi produk bernilai ekonomi.

Rencana tersebut juga telah disampaikan kepada Wakil Kepala BPGMN Mayjen TNI Sriyanto sebagai salah satu pendekatan pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pemulihan ekosistem.

Pada tahap awal, penanaman dilakukan di lahan percontohan seluas satu hektare dengan sekitar 300 bibit bambu. KPEHI menargetkan perluasan penanaman hingga 100 hektare pada tahap berikutnya.

Agi mengatakan, Kabupaten OKI dipilih karena memiliki kawasan gambut yang luas dan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pengembangan bambu diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang sehingga masyarakat memiliki insentif untuk ikut menjaga kawasan.

“Bambu ini dalam waktu sekitar tiga setengah tahun sudah bisa dipanen. Jadi, masyarakat tidak hanya menanam dan menjaga gambut, tetapi nantinya juga bisa memperoleh hasil ekonominya,” ujar Agi.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi