Senin 02 Nov 2026 07:03 WIB

Perubahan Iklim Percepat Keruntuhan Sistem Es Bumi

Pencairan es Greenland dan Antarktika berlangsung enam kali lebih cepat.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Gita Amanda
Pencairan lapisan es Greenland dan Antarktika berlangsung enam kali lebih cepat dibandingkan 30 tahun lalu. (ilustrasi)
Pencairan lapisan es Greenland dan Antarktika berlangsung enam kali lebih cepat dibandingkan 30 tahun lalu. (ilustrasi)

JAKARTA — Dampak perubahan iklim terhadap kawasan es dunia atau cryosphere semakin mengkhawatirkan. Pencairan lapisan es Greenland dan Antarktika berlangsung enam kali lebih cepat dibandingkan 30 tahun lalu, sementara es laut dan gletser pegunungan menghilang dengan kecepatan yang melampaui rekor. Sejumlah kerusakan tersebut kini tidak mungkin dipulihkan dalam skala waktu kehidupan manusia.

Temuan tersebut menjadi sorotan dalam laporan Overshoot and the Cryosphere yang diterbitkan International Cryosphere Climate Initiative (ICCI) bersama Program Lingkungan PBB (UNEP) pada 2 November. Laporan itu memperingatkan dampak perubahan iklim terhadap sistem es bumi telah mencapai tingkat yang membawa konsekuensi jangka panjang bagi kehidupan manusia dan ekosistem global.

Baca Juga

CEO Climate Analytics Bill Hare mengatakan, laporan tersebut menjadi bukti nyata konsekuensi dari keputusan politik yang selama bertahun-tahun menghambat penguatan kebijakan iklim dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.

"Setiap menteri pemerintah dan eksekutif perusahaan bahan bakar fosil yang selama ini berhasil melemahkan aksi iklim dapat melihat laporan ini dan menyadari bahwa tindakan mereka telah merusak dunia tempat kita hidup secara mendasar," kata Hare dalam pernyataannya, Senin (2/11/2026).

Ia menjelaskan pencairan lapisan es yang semakin cepat, hilangnya es laut dan gletser pegunungan, kenaikan permukaan laut, serta pengasaman laut di kawasan kutub merupakan rangkaian dampak yang semakin sulit dibalikkan. Hare mengatakan, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko dampak perubahan iklim melampaui batas kemampuan manusia dan ekosistem untuk beradaptasi.

Laporan ini diterbitkan menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP31 yang dijadwalkan berlangsung di Antalya, Turki. Hare mendesak Presidensi COP31 yang dipimpin bersama oleh Turki dan Australia untuk memastikan konferensi tersebut menghasilkan percepatan nyata dalam transisi meninggalkan bahan bakar fosil.

Ia menegaskan pengurangan penggunaan batu bara, minyak, dan gas merupakan langkah utama untuk membatasi pelampauan ambang pemanasan global 1,5 derajat Celsius dan mengembalikan suhu bumi ke bawah batas tersebut.

Kajian tersebut menegaskan dunia sangat mungkin mencapai pemanasan global 1,5 derajat Celsius pada awal 2030-an akibat lambatnya pengurangan emisi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini membuat dunia menuju periode overshoot, yakni situasi ketika suhu global untuk sementara melampaui batas pemanasan yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Namun, pelampauan ambang 1,5 derajat Celsius bukan berarti tujuan Perjanjian Paris harus diubah. Sebaliknya, pemerintah perlu memperkuat implementasi komitmen iklim untuk membatasi besaran dan durasi pelampauan tersebut sebelum mengembalikan suhu global ke bawah 1,5 derajat Celsius sebelum 2100.

Laporan tersebut mengingatkan batas 1,5 derajat Celsius tetap menjadi pijakan hukum, moral, dan politik dalam agenda perubahan iklim global. Ambang tersebut ditetapkan karena peningkatan suhu di atasnya berisiko memperburuk dampak iklim dan memicu titik kritis atau tipping points yang dapat menyebabkan perubahan sistem bumi secara drastis.

Kesepakatan Paris juga mengamanatkan pencapaian emisi nol bersih gas rumah kaca global pada paruh kedua abad ini. Kedua tujuan tersebut harus dipandang sebagai satu kesatuan, yakni membatasi puncak pemanasan sedekat mungkin dengan 1,5 derajat Celsius dan kemudian menurunkannya kembali ke bawah ambang tersebut.

Dalam kajian tersebut, para peneliti menyusun skenario Highest Possible Ambition (HPA) untuk memperbarui jalur penurunan emisi global berdasarkan kondisi energi dan tingkat emisi pada 2025. Skenario ini mempertimbangkan perkembangan teknologi energi terbarukan dan teknologi rendah karbon yang dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan biaya lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi