Jumat 03 Nov 2023 08:28 WIB

UEA Ungkap Rencana Aksi Komprehensif COP28

Konferensi perubahan iklim akan digelar mulai 30 November hingga 12 Desember 2023.

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Uni Emirat Arab (UEA) akan menjadi tuan rumah sesi ke-28 Konferensi Para Pihak Penandatangan Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP28).
Foto: AP Photo/Kamran Jebreili
Uni Emirat Arab (UEA) akan menjadi tuan rumah sesi ke-28 Konferensi Para Pihak Penandatangan Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP28).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Uni Emirat Arab (UEA) akan menjadi tuan rumah sesi ke-28 Konferensi Para Pihak Penandatangan Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP28). Konferensi ini akan diselenggarakan di Expo City Dubai, mulai 30 November hingga 12 Desember 2023.

"UEA selalu melihat aksi iklim sebagai peluang untuk menyumbangkan solusi praktis bagi masalah global yang memengaruhi semua negara sembari mendiversifikasi ekonominya dan menciptakan pengetahuan, keterampilan, dan lapangan kerja bagi generasi mendatang sebagai bagian dari ekonomi Net Nol," kata Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Obaid Aldhaheri, Kamis (2/11/2023).

Ia mengatakan UEA negara pertama di kawasan ini yang menandatangani dan meratifikasi Perjanjian Paris pada tahun 2016. Negara pertama yang berkomitmen untuk mengurangi emisi di seluruh ekonomi, dan yang pertama di kawasan ini yang mengumumkan Prakarsa Strategis Nol Neto pada tahun 2050.

UEA, katanya, rumah bagi tiga pembangkit listrik tenaga surya terbesar dan berbiaya terendah di dunia dan merupakan negara pertama di kawasan ini yang menggunakan teknologi penangkap karbon skala industri. Ia menambahkan UEA juga negara pertama yang menggunakan energi nuklir sipil tanpa emisi di dunia Arab - dengan pembangkit listrik Barakah yang kini menjadi sumber listrik bersih terbesar di kawasan ini - serta pelopor dalam energi nol-karbon baru seperti hidrogen.

 

"UEA memimpin dalam memerangi perubahan iklim sekaligus memastikan keamanan energi. UEA sedang dalam perjalanan untuk mencapai Net Zero pada tahun 2050 dengan teknologi terbaik yang tersedia dengan menggunakan kombinasi gas alam, energi nuklir, dan tenaga surya," katanya.

Dalam pertemuan dengan media di Kedutaan Besar Uni Emirat Arab, Aldhaheri mengungkapkan  rencana komprehensif untuk meningkatkan aksi iklim global. Rencana aksi ini, katanya didasarkan pada lima pilar.

Pertama, mempercepat transisi yang terorganisir, bertanggung jawab, dan berkeadilan di sektor energi. Kedua, mengembangkan mekanisme pendanaan perubahan iklim. Ketiga, fokus pada kehidupan dan mata pencaharian. Keempat, melindungi dan memulihkan ekosistem. Kelima, inklusivitas penuh dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement