Selasa 07 Nov 2023 03:14 WIB

Emisi Karbonnya Tinggi, Dekarbonisasi Harus Jadi Prioritas Sektor Energi- Transportasi

Sektor energi, pangan, dan transportasi menjadi penyumbang emisi karbon signifikan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Gita Amanda
Bus listrik berjajar di tempat pengendapan shuttle bus, (ilustrasi). Industri transportasi telah menyumbang sekitar 23 persen emisi karbon global.
Foto: ANTARA FOTO/Media Center KTT ASEAN 2023/Rommy
Bus listrik berjajar di tempat pengendapan shuttle bus, (ilustrasi). Industri transportasi telah menyumbang sekitar 23 persen emisi karbon global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sektor energi, pangan, dan transportasi menjadi penyumbang emisi karbon yang signifikan. Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), sektor energi menyumbang 75 persen emisi gas rumah kaca global, sementara produksi pangan global bertanggung jawab atas 35 persen dari emisi karbon global, dan industri transportasi telah menyumbang sekitar 23 persen emisi karbon global.

Seiring peningkatan bencana yang terkait perubahan iklim, sektor-sektor tersebut kini telah didorong untuk melakukan dekarbonisasi atau pengurangan emisi karbon dioksida. Bimo Soewadji, CEO dan Founder CarbonEthics, menegaskan bahwa dekarbonisasi di sektor-sektor tersebut sangat penting dilakukan.

Baca Juga

"Tapi memang setiap sektor memiliki proses yang sama-sama kompleks dalam menyikapi emisi karbon. Jadi menurut saya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah penyetaraan pemahaman dari setiap aktor terhadap masalahnya, baik itu mengenai target yang ingin dicapai, serta panduan do and don't yang perlu diterapkan sepanjang proses dekarbonisasi,” kata Bimo saat diwawancarai Republika di kantor CarbonEthics di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (6/11/2023).

Ia menjelaskan beberapa aspek penting yang harus diterapkan untuk mendukung percepatan pengurangan emisi di sektor-sektor tersebut. Pertama, regulasi dan kebijakan lingkungan yang ketat. Menurut dia, setiap sektor perlu mengikuti peraturan yang ketat dan kebijakan yang jelas untuk menjaga lingkungan dan mengurangi emisi karbon.

 

Lalu kedua, pelaporan yang transparan terhadap komitmen ESG. Bimo menekankan, pentingnya keterbukaan dari setiap sektor untuk melaporkan komitmen perusahaan terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) perusahaan kepada semua pihak yang berkepentingan.

Teknologi dan inovasi yang berkelanjutan juga dinilai penting. Ia menilai, industri, pemerintah, dan semua pihak terkait perlu bekerja sama dan melakukan penelitian bersama untuk mengembangkan teknologi serta ide-ide baru yang berkelanjutan dalam upaya mengurangi emisi karbon.

“Edukasi yang bertanggung jawab kepada masyarakat juga sangat penting untuk meningkatkan pemahaman tentang perubahan iklim dan cara-cara mengatasinya,” jelas Bimo.

Bimo juga menilai, peran konsumen sangat berperan dalam menentukan tren saat ini dan masa depan. Ketika permintaan terhadap produk berkelanjutan dan rendah emisi semakin meningkat, jelas Bimo, maka dipastikan industri akan berlomba-lomba untuk menjadi pionir dalam menyediakan produk-produk tersebut.

Karena itu, dia mengajak semua konsumen untuk mulai bijak dan memilih produk yang lebih berkelanjutan. “Ketika perusahaan melihat bahwa tren konsumen terhadap produk berkelanjutan demand-nya tinggi, mereka pasti akan melaju ke arah tren tersebut,” kata Bimo.

Menurut Bimo, beberapa perusahaan di sektor tersebut sudah banyak yang mulai “melek” terhadap isu keberlanjutan. Sebagai contoh, di sektor transportasi, TransJakarta telah bekerja sama dengan CarbonEthics dalam menyelenggarakan kampanye aksi iklim di halte dan bus sebagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada pelanggan TransJakarta tentang urgensi perubahan iklim dan tindakan yang dapat diambil, salah satunya melalui penanaman mangrove.

Perusahaan TransJakarta juga ikut mendukung kegiatan ini. Hingga saat ini, kata Bimo, sudah terkumpul lebih dari 12 ribu mangrove, dan jumlah ini akan terus bertambah. Mangrove yang ditanam ini dapat menyerap hingga 396 ribu kilo gram karbon dioksida ekuivalen selama masa hidupnya. Selain manfaat lingkungan, rehabilitasi mangrove juga memberikan dampak positif bagi masyarakat pesisir.

“Dan kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kepedulian perusahaan dan industri sudah besar, hanya saja tinggal aksinya, dan kami harap ke depannya semakin banyak perusahaan yang melakukan aksi-aksi nyata dalam mewujudkan dekarbonisasi,” kata Bimo.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement