Selasa 09 Jan 2024 11:21 WIB

Perubahan Iklim Berdampak pada Berat Bayi Baru Lahir, Ini Penjelasan Studi

Perubahan iklim dikaitkan dengan paparan cuaca ekstrem selama masa kehamilan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Para ilmuwan yang menemukan kemungkinan adanya hubungan dengan paparan cuaca ekstrem selama kehamilan.
Foto: Pixabay
Para ilmuwan yang menemukan kemungkinan adanya hubungan dengan paparan cuaca ekstrem selama kehamilan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perubahan iklim dilaporkan dapat berdampak pada berat bayi baru lahir. Hal ini merujuk pada analisa para ilmuwan yang menemukan kemungkinan adanya hubungan dengan paparan cuaca ekstrem selama kehamilan.

Para peneliti di Curtin School of Population Health mengatakan bahwa pemanasan global dapat menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan reproduksi masyarakat. Sebuah penelitian mengamati lebih dari 385 ribu kehamilan di Australia Barat antara tahun 2000 dan 2015, dari 12 minggu sebelum pembuahan hingga kelahiran.

Baca Juga

Hasil penelitian menunjukkan paparan suhu dingin dan panas yang ekstrem selama tahap akhir kehamilan menyebabkan ukuran bayi menjadi kecil atau besar. Akan tetapi, dampaknya lebih besar pada paparan suhu dingin daripada panas.

Peneliti kesehatan lingkungan dan populasi, Sylvester Dodzi Nyadanu, mengatakan temuan ini merupakan bagian dari bukti yang terus bertambah tentang ancaman perubahan iklim terhadap kesehatan reproduksi.

 

Hal ini termasuk ketika para ibu terpapar cuaca ekstrem selama kehamilan, seperti gelombang panas, banjir, kekeringan, angin topan, dan kebakaran hutan. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan penularan penyakit di masyarakat, kerawanan pangan dan air, serta gangguan terhadap lingkungan sosial.

“Paparan stres termal meningkatkan dehidrasi dan menginduksi stres oksidatif dan respons inflamasi sistemik, yang menyebabkan dampak buruk pada kesehatan reproduksi dan janin,” kata Nyadanu seperti dilansir Shepparton News, Selasa (8/1/2024).

Studi tersebut juga menemukan beberapa sub-populasi berisiko lebih tinggi mengalami pertumbuhan janin abnormal akibat paparan stres biotermal, termasuk orang non-Kaukasia. Kehamilan ketika ibu berusia 35 tahun ke atas, merokok atau tinggal di daerah pedesaan, serta ibu yang mengandung bayi laki-laki juga memiliki risiko lebih besar.

Penelitian ini menambah koleksi studi observasional yang melaporkan paparan ibu terhadap suhu lingkungan dan hasil kehamilan seperti komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, lahir mati, dan berat badan lahir rendah.

“Perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai intervensi apa yang akan memberikan hasil lebih baik bagi orang tua dan bayi. Terutama pada sub-populasi rentan tertentu yang diidentifikasi dalam penelitian kami,” kata Nyadanu.

Studi ini dipublikasikan di jurnal Environmental Health Perspectives.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement