Selasa 09 Jan 2024 18:47 WIB

Pakar Iklim: Cuaca Ekstrem di Indonesia Dampak dari Perubahan Iklim dan Pemanasan Global

Kenaikan suhu 1 derajat celcius berdampak 0,7 persen terhadap cuaca ekstrem.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Perubahan iklim dan pemanasan global sangat berdampak pada cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia.
Foto: www.freepik.com
Perubahan iklim dan pemanasan global sangat berdampak pada cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Edvin Aldrian, mengungkapkan bahwa perubahan iklim dan pemanasan global sangat berdampak pada cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia. Menurut dia, kenaikan suhu 1 derajat Celcius lebih itu memberi dampak 0,7 persen peningkatan dari cuaca ekstrem.

“Jadi pemanasan global itu memang pada dasarnya berdampak, dan bertanggung jawab atas peningkatan cuaca ekstrem,” kata Prof Edvin yang juga bekerja untuk Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) saat dihubungi Republika, Selasa (9/1/2024).

Baca Juga

Prof Edvin menjelaskan bahwa berdasarkan pada laporan IPCC pada 2014, suhu permukaan rata-rata Bumi berada pada 1,2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Karenanya, penting bagi Indonesia untuk melakukan adaptasi iklim dan pengawasan yang terukur.

Ia kemudian memprediksi, cuaca di Indonesia pada awal tahun 2024 masih akan terpengaruh oleh El Nino, yang menurutnya baru akan berakhir pada April mendatang. El Nino pada umumnya membuat suhu laut menjadi lebih dingin. Namun, menurut Prof Edvin, peningkatannya bisa bolak-balik dimana wilayah yang lebih kering bisa bertambah kering, begitupun yang basah akan bertambah basah.

“Artinya yang biasa ada banjir bisa berisiko semakin sering banjirnya. Ini tentu harus menjadi perhatian bersama, bagaimana mitigasi kita dalam menghadapi risiko-risiko tersebut,” kata Prof Edvin.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa perubahan iklim tidak bisa diremehkan, karena dampaknya sangat besar terhadap cuaca di Indonesia.

“Kalau mengutip Sekjen PBB, sekarang itu dunia sedang mengalami global boiling atau era pendidihan. Jadi saya kira sudah tegas bagaimana kondisi bumi kita saat ini,” kata Prof Edvin.

Ia pun menyinggung bagaimana perubahan iklim berkontribusi pada suhu panas ekstrem atau gelombang panas yang terjadi di berbagai negara sepanjang tahun 2023. Dan untuk tahun 2024, ia pun tak menutup kemungkinan suhu panas akan kembali terjadi.

“Tapi untuk pastinya memang perlu diamati lebih lanjut. Dan biasanya, pengamatan atau prediksi suhu panas dimulai setelah Spring, sekitar bulan Mei dan Juni. Pada saat itu, biasanya mulai bisa diprediksi,” kata dia.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement