Kamis 11 Jan 2024 20:03 WIB

Ahli Duga Mikroplastik Juga Cemari Antartika, Bahkan Kotoran Penguin Juga Dianalisis

Jumlah mikroplastik di Antartika tengah dianalisis para ahli dengan ilmu nuklir.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Para ahli menganalisis jumlah mikroplastik di Antartika dengan menggunakan ilmu nuklir untuk mempelajari air, sedimen, dan bahkan kotoran penguin di wilayah tersebut.
Foto: Jason Auch/Wikimedia
Para ahli menganalisis jumlah mikroplastik di Antartika dengan menggunakan ilmu nuklir untuk mempelajari air, sedimen, dan bahkan kotoran penguin di wilayah tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah mikroplastik di Antartika sedang dianalisis oleh para ahli dengan menggunakan ilmu nuklir untuk mempelajari air, sedimen, dan bahkan kotoran penguin di wilayah tersebut. 

Investigasi gabungan tersebut diluncurkan pekan ini, dan dilakukan oleh Badan Energi Atom Internasional PBB dan Instituto Antartico Argentino (IAA), bagian dari IAEA NUTEC Plastics Initiative yang meneliti polusi mikroplastik di negara-negara seluruh dunia.

Baca Juga

Rafael Grossi, direktur jenderal IAEA, mengatakan bahwa dengan menggunakan aplikasi nuklir, dimungkinkan untuk menentukan jumlah polutan di dasar laut atau di mana pun dengan akurasi yang baik. 

"Kesehatan Antartika sangat penting bagi kesehatan planet ini. Mikroplastik mempengaruhi lingkungan dan tempat ini tanpa terkecuali," kata Grossi seperti dilansir Reuters, Kamis (9/1/2024).

Program ini akan menggunakan kapal pemecah es Almirante Irizar milik Argentina dan para ilmuwan akan mengambil sampel dari penguin guano, sedimen dari dasar laut, dan air di sekitar lapisan es untuk dianalisis di Pangkalan Carlini milik Argentina di Antartika. Sampel lainnya akan dikirim ke pusat penelitian IAEA di Monako.

"Kami memberikan perhatian khusus pada fraksi terkecil dari mikroplastik dan mencoba mengidentifikasi asal-usulnya. Kami lantas akan mengidentifikasi bagaimana cara membersihkannya dan bahkan mencegahnya sejak awal. Juga apakah mereka terbawa arus laut dari bagian lain planet ini atau dihasilkan di Antartika sendiri,” kata salah satu peneliti di IAEA, Lucas Ruberto.

Ruberto mengatakan bahwa mikroplastik berbahaya bagi ekosistem dan kehidupan karena sering tertelan dan menyebabkan akumulasi di dalam organisme yang dapat menyebabkan penyakit.

"Diperkirakan sejak diperkenalkan ke pasar, 7 miliar ton plastik telah dibuang ke lingkungan, sebagian besar di antaranya di lingkungan laut," kata Ruberto.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement