Rabu 17 Jan 2024 14:50 WIB

Youtube Hasilkan Jutaan Dolar AS dari Kanal Pembuat Klaim Palsu Perubahan Iklim

Pembuat konten menggunakan cara baru mengelabui kebijakan Youtube.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
YouTube menghasilkan jutaan dolar AS per tahun dari iklan di kanal-kanal yang membuat klaim palsu mengenai perubahan iklim, demikian menurut laporan dari Center for Countering Digital Hate (CCDH).
Foto: www.pixabay.com
YouTube menghasilkan jutaan dolar AS per tahun dari iklan di kanal-kanal yang membuat klaim palsu mengenai perubahan iklim, demikian menurut laporan dari Center for Countering Digital Hate (CCDH).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- YouTube menghasilkan jutaan dolar AS per tahun dari iklan di kanal-kanal yang membuat klaim palsu mengenai perubahan iklim, demikian menurut laporan dari Center for Countering Digital Hate (CCDH). Laporan itu juga menemukan bahwa para pembuat konten telah menggunakan taktik baru untuk mengelabui kebijakan YouTube terkait informasi yang salah.

CCDH, sebuah lembaga nirlaba yang memantau ujaran kebencian di dunia maya, menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meninjau transkrip dari 12.058 video dalam enam tahun terakhir di 96 channel YouTube. Saluran-saluran tersebut mempromosikan konten yang merongrong konsensus ilmiah tentang perubahan iklim bahwa perilaku manusia berkontribusi pada perubahan jangka panjang dalam pola suhu dan cuaca.

Baca Juga

Berdasar pada analisisnya, CCDH menemukan bahwa konten yang menyangkal perubahan iklim telah membuat klaim palsu bahwa pemanasan global tidak betul-betul terjadi atau tidak disebabkan oleh gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Video yang mendukung klaim tersebut secara eksplisit seharusnya dilarang untuk menghasilkan pendapatan iklan di YouTube.

Laporan tersebut juga menemukan, 70 persen konten penyangkalan iklim di berbagai channel yang dianalisis menyatakan bahwa berbagai solusi iklim yang ada sekarang tidak dapat diterapkan. Lalu menggambarkan pemanasan global sebagai sesuatu yang tidak berbahaya, serta menganggap kajian ilmiah dan gerakan lingkungan sebagai sesuatu yang tidak dapat diandalkan. Angka tersebut naik dari 35 persen lima tahun sebelumnya.

 

"Sebuah front baru secara terbuka telah bergabung dalam 'pertempuran' ini. Dari channel yang kami amati, mereka telah berubah dari yang tadinya mengatakan bahwa perubahan iklim tidak terjadi menjadi sekarang mengatakan, 'Hei, perubahan iklim sedang terjadi tetapi tidak ada harapan. Tidak ada solusi,” kata Imran Ahmed, kepala eksekutif CCDH, seperti dilansir Reuters, Rabu (17/1/2024).

CCDH juga memperkirakan, YouTube menghasilkan hingga 13,4 juta dolar AS atau sekitar Rp 209,66 miliar tahun dari iklan di saluran yang dianalisis oleh laporan tersebut. Kelompok ini mengatakan bahwa pemodelan AI dibuat untuk dapat membedakan antara skeptisisme yang masuk akal dan informasi palsu.

Dalam sebuah pernyataan, YouTube tidak mengomentari secara langsung laporan tersebut, tetapi membela kebijakannya.

"Perdebatan atau diskusi tentang topik perubahan iklim, termasuk seputar kebijakan publik atau penelitian, diperbolehkan. Namun, ketika konten melewati batas penyangkalan terhadap perubahan iklim, kami berhenti menayangkan iklan pada video tersebut,” kata juru bicara YouTube.

Sementara itu, CCDH telah meminta YouTube untuk memperbarui kebijakannya mengenai konten penyangkalan iklim dan mengatakan bahwa analisis tersebut dapat membantu gerakan lingkungan untuk memerangi klaim palsu tentang pemanasan global secara lebih luas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement