Jumat 23 Feb 2024 21:15 WIB

Ilmuwan Kembangkan Teknologi Analisis Musim dan Pergerakan Gletser

Teknologi terbaru berikan prediksi musim dan pergerakan gletser lebih baik.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Embun es pada rerumputan mulai mencair (ilustrasi).
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Embun es pada rerumputan mulai mencair (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada tanggal 20 Februari, tim peneliti yang berdedikasi mempresentasikan dataset calving front beresolusi tinggi dari 149 gletser di Svalbard, mulai dari tahun 1985 hingga 2023. Dataset inovatif ini, yang ditampilkan dalam Earth System Science Data, menawarkan alat penting untuk lebih memahami mekanisme di balik terbentuknya gletser atau pecahnya gunung es, yang dapat membantu meningkatkan pemahaman kita tentang faktor iklim yang menyebabkan hilangnya gletser di Svalbard dan Kutub Utara.

Hilangnya gletser dalam jumlah besar telah meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir, sehingga secara signifikan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global. Namun, banyak mekanisme di balik hilangnya gletser, khususnya dinamika pembentukan gletser yang berakhir di laut, belum dipahami dengan baik.

Baca Juga

“Studi baru ini menggunakan deep learning yang canggih untuk menghasilkan rekor perubahan calving front selama 38 tahun di gletser air laut Svalbard dengan kepadatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menggunakan citra satelit resolusi tinggi,” kata Dr Tian Li, seorang peneliti di Bristol Glaciology Center dan penulis utama studi tersebut, dilansir Phys, Jumat (23/2/2024).

Dataset tersebut mencakup hampir 125 ribu jejak pembentukan calving front, dan hasilnya menunjukkan tren penurunan pada sebagian besar gletser di Svalbard. Dengan menggunakan katalog data satelit yang luas, para peneliti dapat menganalisis variasi musiman dan tahunan, serta mengetahui waktu terjadinya lonjakan, di mana gletser bergerak secara substansial dalam waktu singkat. Temuan ini dapat membantu untuk memahami dengan lebih baik dan memprediksi hilangnya gletser di Kutub Utara di masa depan.

 

Menurut Tian Li, dataset ini dapat digunakan untuk meningkatkan penilaian keseimbangan massa gletser air pasang di Svalbard. Selain itu, data ini memungkinkan eksplorasi penyebab dan proses yang mengendalikan pembentukan gletser.

“Hal ini penting untuk memahami dinamika pembentukan gletser, yang merupakan indikator utama dari proses pembentukan gletser. bagaimana gletser merespons perubahan iklim,” jelas dia.

Dataset ini merupakan bagian dari hasil kerja Arctic PASSION dalam membangun sistem pengamatan yang lebih baik untuk variabel-variabel iklim utama dari sistem Arctic Cryosphere dan juga akan diintegrasikan ke dalam pekerjaan Arctic PASSION untuk membangun sistem peramalan dan pemantauan operasional end-to-end untuk daratan es Kutub Utara.

Ke depannya, tim peneliti berencana menerapkan metodologi ini pada semua gletser air pasang lainnya di Kutub Utara.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement