Rabu 27 Mar 2024 14:58 WIB

Krisis Iklim, Perempuan di Asia Selatan Alami Kerontokan

Krisis iklim membuat wilayah Asia Selatan kesulitan air bersih.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Perempuan di Asia Selatan menjadi korban dari efek samping krisis iklim yang mengkhawatirkan karena sumber air bersih.
Foto: www.freepik.com.
Perempuan di Asia Selatan menjadi korban dari efek samping krisis iklim yang mengkhawatirkan karena sumber air bersih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perempuan di Asia Selatan menjadi korban dari efek samping krisis iklim yang mengkhawatirkan karena sumber air bersih untuk minum dan mandi menjadi langka. Kondisi ini membuat rambut mereka mengalami kerontokan.

Di wilayah pesisir Bangladesh, di mana lebih dari separuh airnya tercemar garam dan polutan, para wanita berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh untuk mendapatkan air yang sedikit lebih aman untuk diminum.

Baca Juga

Namun, karena air bersih merupakan sumber daya yang sangat berharga, para wanita rela mandi dengan air sadah, yang tidak hanya menyebabkan infeksi tetapi juga menyebabkan mereka kehilangan rambut.

Di wilayah Satkhira di barat daya Bangladesh, di mana penduduknya hanya bergantung pada tanaman padi dan perikanan untuk mata pencaharian mereka, para wanita mengatakan bahwa mereka mengalami kerontokan pada tingkat yang mengkhawatirkan. Beberapa perempuan takut akan mengalami kebotakan dini, sementara yang lain menjual rambut mereka ke pedagang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 

"Perempuan di wilayah Satkhira hidup tanpa kebutuhan dasar air bersih, toilet yang layak, dan kebersihan yang baik, dan krisis iklim memperburuk keadaan," kata Anindita Hridita, pemimpin program ketahanan iklim di WaterAid Bangladesh, seperti dilansir The Independent, Rabu (27/3/2024).

"Mereka mengatakan bahwa paparan terus menerus terhadap sumber air yang terkontaminasi tidak hanya menyebabkan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air yang berbahaya, tetapi juga merampas rambut mereka, sebuah tambahan ketidakadilan dalam situasi yang sudah mengerikan ini,” tambah dia.

Hridita dan timnya melakukan perjalanan selama berhari-hari di wilayah tersebut, mengumpulkan cerita dari para wanita di desa-desa di Satkhira yang menderita akibat berbagai dampak dari krisis iklim.

"Air yang saya gunakan untuk mandi menyebabkan kulit saya menjadi sangat kering dan melepuh. Lepuhan itu terkadang menjadi sangat kering dan berdarah," ujar Shyamoli Munda, seorang petani padi dan ikan dari desa Bhetkali di Satkhira.

Shyamoli mengatakan bahwa ia telah kehilangan begitu banyak rambutnya dalam beberapa tahun terakhir sehingga ia takut menjadi botak.

"Setiap hari ada banyak rambut yang rontok, hampir segenggam. Rambut saya rontok setiap kali menyisir. Sebagai seorang wanita, rambut adalah segalanya bagi kami, jadi setiap kali saya kehilangan rambut, saya merasa tidak percaya diri akan mengalami kebotakan atau semacamnya,” kata Shyamoli.

Studi ilmiah menunjukkan bahwa air sada atau air keras membuat rambut dan kulit menjadi kering dan lemah. Namun, paparan ekstrem yang dialami para wanita ini setiap hari terhadap air garam menyebabkan efek yang lebih parah.

Di Satkhira, di mana kadar garamnya lebih tinggi, para perempuan yang pindah dari daerah lain mengalami kerontokan rambut yang lebih cepat. Hridita mengatakan bahwa para wanita yang pindah ke desa tersebut setelah menikah mengatakan kepadanya, bahwa jika sebelumnya mereka kehilangan segenggam rambut, sekarang mereka kehilangan dua kali lipat.

"Kami memanfaatkan air kolam untuk mandi dan mencuci. Airnya tidak bagus, tetapi tidak ada alternatif lain. Saya takut bahwa saya tidak akan memiliki rambut lagi pada akhirnya,” kata Jhorna Munda, seorang penduduk berusia 22 tahun dari Bhetkhali, Satkhira.

Narasi kerontokan rambut tidak hanya sekadar estetika, tetapi juga memiliki makna budaya dan pribadi yang mendalam. Hridita mengatakan bahwa masalah ini sangat berkaitan tidak hanya dengan kesehatan mental perempuan, tetapi juga dengan posisi mereka di masyarakat dan bahkan masa depan mereka.

"Di Asia Selatan, sebelum perjodohan, keluarga mempelai pria datang untuk melihat calon pengantin wanita, dan para wanita dipamerkan dengan segala kecantikan dan kepercayaan diri mereka. Sangat penting untuk memiliki rambut,” kata Hridita.

Meskipun masalah ini juga mempengaruhi para pria, Hridita mengatakan bahwa mereka tampaknya tidak terlalu terganggu dengan rambut mereka yang rontok. Tetapi bagi perempuan, hal itu merupakan hilangnya identitas mereka.

Masalah ini tidak hanya terjadi di Bangladesh. Di daerah kering di Uganda, para wanita juga menghadapi tantangan yang sama.

"Karena kami mendapatkan air dari tempat yang jauh, saya hanya menggunakan sedikit air untuk mencuci rambut. Akibatnya, rambut saya tidak dicuci benar-benar bersih," kata Lina Lokol, 30, seorang ibu dari enam orang anak yang tinggal di desa Ariamaoi di wilayah Karamoja, Uganda.

"Saya menjaga rambut saya tetap bersih dan rapi agar dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat. Di sini, di Karamoja, jika seorang wanita memiliki rambut yang lusuh, orang-orang akan menertawakannya; mereka mungkin mengira ia adalah wanita gila. Dan jika Anda mencukur habis rambut Anda, orang mungkin berpikir Anda telah kehilangan suami Anda,” tambah dia.

Di sebagian besar rumah di pedesaan Bangladesh dan Uganda, perempuan bertanggung jawab untuk mengambil air. Mereka melakukan perjalanan yang sulit, menempuh jarak yang jauh untuk mengambil air minum bagi keluarga mereka. Dengan apa pun yang mereka ambil di dalam jeriken, pekerjaan rumah tangga menjadi prioritas, dan kebersihan diri serta keramas menjadi nomor dua.

Beberapa wanita juga mulai menjual rambut mereka yang rontok. Asia Selatan telah lama menjadi pusat perdagangan rambut. Namun rambut, yang dulunya diperoleh sebagai sumbangan, kini telah menjadi cara bagi perempuan Bangladesh untuk menghasilkan uang.

"Saya menjual rambut saya untuk membeli bahan makanan. Saya merasa tidak enak, tapi apa yang bisa saya lakukan? Tidak ada cara lain untuk mendapatkan bahan makanan. Saya menjual rambut saya seharga 600-700 (Rp 80-100 rib) Taka,” kata Shyamoli, seorang ibu dari tiga orang anak, yang tanaman padinya telah menderita karena cuaca ekstrem.

Hridita mengatakan bahwa hal ini telah menjadi praktik umum di masyarakat. "Jika para wanita ini memiliki akses ke air bersih, hidup mereka akan jauh lebih mudah,” tegas dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement