Jumat 26 Jul 2024 16:00 WIB

Santa Cruz di Bolivia Berlakukan Masa Darurat Cuaca Ekstrem

Karhutla di timur Bolivia menghambat pasokan bahan bakar

Rep: Lintar Satria / Red: Satria K Yudha
Cuaca ekstrem (ilustrasi)
Foto: VOA
Cuaca ekstrem (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, LA PAZ --  Departemen terbesar dari sembilan departemen konstituen Bolivia, Santa Cruz mendeklarasikan masa darurat cuaca ekstrem sampai akhir tahun ini. Pemerintah Santa Cruz mengatakan salah satu risiko cuaca ekstrem adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Departemen merupakan wilayah administratif tingkat I di Bolivia. Laporan setempat mengungkapkan karhutla di timur Bolivia menghambat pasokan bahan bakar yang dikirimkan lewat kereta tiba ke sejumlah daerah.

Baca Juga

Hal ini memperburuk kelangkaan diesel yang sudah terjadi pada awal pekan ini di Bolivia dan mempersulit upaya pemadam kebakaran sampai ke daerah-daerah terdampak  karhutla .

"Deklarasi kedaruratan departemen dikeluarkan karena perubahan iklim yang menyebabkan hujan deras, banjir, kekeringan, angin kencang, suhu ekstrem, kebakaran hutan, polusi lingkungan dan peristiwa lainnya," kata dekrit pemerintah Santa Cruz yang dirilis Kamis (25/7/2024).

Masa darurat yang berlaku hingga 30 Desember ini menyerukan pemerintah membebaskan penggunaan anggaran dan sumber daya agar penanggulangan dapat dilakukan dengan cepat.

“Sehubungan dengan masalah diesel yang kami hadapi, sebagai pemerintah nasional kami bertindak secara bertanggung jawab dan merencanakan pembelian diesel yang telah berada di kapal-kapal di pelabuhan Chili selama beberapa hari karena cuaca,” kata Presiden Bolivia Luis Arce.

Ia menjelaskan badai di pelabuhan-pelabuhan Chile membuat bahan bakar tidak dapat diturunkan. Diesel tersebut dibeli dari Rusia, negara yang menjadi tujuan utama Bolivia untuk mengatasi kekurangan bahan bakar baru-baru ini.

Menurut LSEG, kapal Zeynep yang membawa 33 ribu metrik ton diesel dari Laut Baltik sudah tiba di pantai Chile pekan ini. Bolivia, yang mengalami lonjakan deforestasi dalam beberapa tahun terakhir, memiliki area lahan basah yang luas dan sebagian besar hutan hujan Amazon di Amerika Selatan.

Tercatat 14 kota telah menyatakan bencana karena hujan, tanah longsor dan banjir, enam karena kekeringan dan satu karena kekeringan dan kebakaran hutan.

Direktur sumber daya alam pemerintah Santa Cruz, Julieta Valverde mengatakan sekitar 494.210 hektare terkena dampak dari sekitar 25 titik api yang masih aktif. “Pemerintah saat ini sedang menangani 10 titik api,” katanya.

Para ilmuwan memperkirakan bulan ini dapat mengalahkan rekor bulan Juli untuk kebakaran terbanyak yang pernah tercatat pada bulan tersebut di Bolivia, ketika skala penuh kerusakan yang terekam oleh citra satelit dianalisis. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement