REPUBLIKA.CO.ID, BUENOS AIRES -- Kelompok ilmuwan yang tergabung dalam World Weather Attribution (WWA) menemukan hujan deras yang mengakibatkan banjir besar di Argentina pada awal bulan ini dipicu perubahan iklim. Dalam laporannya WWA, mengatakan bencana yang menewaskan 16 orang itu dapat semakin sering terjadi ketika suhu bumi kian memanas.
WWA mengungkapkan, panas ekstrem di kawasan memicu banjir karena massa udara hangat dan lembab bertemu dengan angin dingin dari wilayah Patagonian. Pertemuan itu memicu hujan deras di kota pelabuhan Bahia Blanca yang terletak sekitar 550 kilometer selatan Buenos Aires.
"Pada dasarnya indikator panas dan lembab (yang memicu banjir) tidak akan mungkin terjadi tanpa perubahan iklim," kata salah satu penulis laporan tersebut dan ilmuwan di Institut Penelitian Salju, Glasiologi dan Lingkungan Argentina (IANIGLA) Juan Rivera, Kamis (27/3/2025).
Dalam konferensi pers peluncuran laporan itu, Rivera mengatakan beberapa hari sebelum hujan, suhu di utara dan tengah Argentina mencapai 40 derajat Celsius. Suhu panas ini disertai gelombang panas lembab dari Amazon meningkatkan akumulasi awan yang menjatuhkan hujan sebanyak 300 milimeter selama enam jam di Bahia Blanca. "Banjir ini belum pernah terjadi sebelumnya di stasiun meteorologi nasional," kata Rivera.
Ia mencatat angin dingin di daerah itu sempat bertahan beberapa lama sebelum akhirnya bergerak. Penelitian WWA mengatakan panas ekstrem yang mengakibatkan hujan deras masih merupakan peristiwa langka yang terjadi setiap 50 sampai 100 tahun sekali tapi perubahan iklim yang meningkatkan suhu bumi membuat peristiwa ini semakin sering dan intensif.
Tahun 2024 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat, melewati 1,5 derajat Celsius rata-rata masa pra-industri. Sejumlah ilmuwan memperkirakan 2025 akan mengalahkan rekor tersebut.
WWA mencatat meski mereka dapat menyimpulkan keterkaitan antara aktivitas manusia dengan perubahan iklim dan kenaikan suhu, hubungan antara hujan deras masih belum jelas karena kurangnya data meteorologi global. "Tapi kami tidak dapat dibodohi dengan ketidakpastian ini, dunia kian menghangat, kemungkinan peristiwa ini terjadi berturut-turut atau bersamaan di wilayah yang sama semakin meningkat dan kita perlu bersiap menghadapi itu," kata salah satu pimpinan di WWA Friederike Otto.
Laporan WWA mencatat urbanisasi di Bahia Blanca tumbuh dengan pesat dan infrastruktur kota itu tidak dapat menampung hujan deras. WWA menambahkan pemanasan global meningkatkan bencana di daerah itu. Semakin menuanya populasi, pembangunan kota dan kepadatan penduduk menambah risiko.
Rivera mencatat daerah yang terdampak banjir di Argentina bulan ini juga dihantam badai yang membawa angin dengan kecepatan 150 kilometer per jam tahun 2023 lalu.
“Kedua peristiwa ekstrem tersebut berdampak luas dan memiliki ciri-ciri umum perubahan iklim yang disebabkan manusia: panas ekstrem yang lebih sering dan udara yang lebih lembab, faktor-faktor yang memicu badai,” kata Rivera.
Ia menambahkan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami risiko yang lebih besar dari dunia yang semakin panas.