REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dalam tinjauan terbaru yang diterbitkan di Oxford Open Climate Change, para ilmuwan mengungkapkan masyarakat berpendapatan rendah dan kulit berwarna menjadi kelompok yang paling terdampak krisis iklim. Para ilmuwan mengatakan kebijakan-kebijakan diskriminatif menambah dampak iklim komunitas rentan.
"Pembangunan bahan bakar fosil yang terkonsentrasi di komunitas kulit hitam, coklat, pribumi dan kulit putih miskin mengakibatkan konsekuensi yang sangat besar," kata salah satu penulis tinjauan itu yang juga professor University of Montana Robin Saha, seperti dikutip dari Science Blog, Kamis (3/4/2025).
Tinjauan yang menegaskan konsekuensi industri bahan bakar fosil terhadap krisis ini ini difokuskan di Amerika Serikat (AS) sebagai produsen minyak dan gas terbesar di dunia. AS juga merupakan kontributor utama krisis bahan bakar fosil. "Sudah terlalu lama, industri yang serakah dan tidak berperasaan memperlakukan komunitas-komunitas yang berada di garis batas ini sebagai zona pengorbanan. Komunitas yang paling tercemar harus diprioritaskan untuk investasi energi bersih dan pemindahan serta pembersihan infrastruktur bahan bakar fosil yang kotor," kata Saha.
Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim dan polusi yang ditimbulkan bahan bakar fosil juga mempercepat risiko kepunahan. Para ilmuwan memprediksi hingga sepertiga dari hewan dan tumbuhan dapat hilang selamanya dalam 50 tahun ke depan jika bahan bakar fosil tidak dikendalikan.
Para ilmuwan menambahkan, untuk melindungi keanekaragaman hayati, sangat penting menempatkan infrastruktur energi terbarukan di lingkungan dan meningkatkan perlindungan terhadap ekosistem yang menyediakan penyimpanan karbon yang penting, di antara banyak manfaat lainnya.
Tinjauan ini juga menunjukkan industri bahan bakar fosil meningkatkan produksi plastik, menimbulkan polusi yang mencemari udara, air, tanah, sistem pangan, satwa liar dan tubuh manusia.
Tinjauan itu merekomendasikan target ambisius untuk memangkas produksi plastik dan bahan kimia plastik, sambil memberikan alternatif plastik yang berkelanjutan dan aman dan memberikan insentif pada pengganti plastik. Para ilmuwan juga merekomendasikan praktik pertanian yang berkelanjutan untuk mengurangi polusi petrokimia dari pestisida dan pupuk.