REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dalam tinjauan terbaru yang diterbitkan di Oxford Open Climate Change, para ilmuwan kembali memperingatkan bahwa industri bahan bakar fosil mendorong krisis lintas dampak, baik terhadap manusia, flora-fauna dan kehidupan di masa depan. Tinjauan ini merupakan sintesis dari berbagai penelitian sebelumnya.
Penelitian-penelitian itu membuktikan bahan bakar fosil dan industri bahan bakar fosil bukan hanya memicu krisis iklim, tapi juga berdampak buruk pada kesehatan manusia, ketidakadilan lingkungan, kehilangan keanekaragaman hayati dan krisis polusi plastik dan bahan kimia untuk pertanian. Tinjauan itu difokuskan pada Amerika Serikat (AS) sebagai produsen minyak dan gas terbesar di dunia. AS juga merupakan kontributor utama krisis bahan bakar fosil.
Para ilmuwan mengatakan sudah ditemukan solusi untuk mengatasi krisis iklim, yakni diakhirinya ekstraksi bahan bakar fosil dan transisi ke energi bersih dan terjangkau. “Sains menunjukkan bahan bakar fosil membunuh kita,” kata penulis utama tinjauan tersebut, direktur ilmu iklim di Center for Biological Diversity Shaye Wolf, seperti dikutip dari Scienceblog, Senin (1/4/2025).
Wolf mengatakan minyak, gas, dan batu bara menyebabkan krisis yang menimbulkan banyak kematian, kepunahan satwa liar dan bencana cuaca ekstrem. Ia mengatakan krisis-krisis itu dapat dicegah dengan berhenti menggunakan bahan bakar fosil.
"Energi bersih dan terbarukan telah hadir, harganya terjangkau, dan akan menyelamatkan jutaan nyawa dan triliunan dolar AS begitu kita menjadikannya sebagai pusat ekonomi kita," katanya.
Tinjauan itu menunjukkan bahan bakar fosil bertanggung jawab atas 90 persen emisi karbon dioksida yang dihasilkan manusia yang menghangatkan suhu bumi, mengasamkan lautan dan meningkatkan ketidakpastian bencana iklim. Polusi udara dari pembakaran bahan bakar fosil juga bertanggung jawab atas kematian dini jutaan orang di seluruh dunia dan ratusan ribu orang di AS setiap tahunnya.
Krisis iklim juga menimbulkan kematian, masalah kesehatan fisik dan mental, meningkatkan bencana alam, penularan penyakit, memperlemah ketahanan pangan dan mendorong jutaan orang mengungsi.
Berdasarkan temuan para ilmuwan dan penelitian selama puluhan tahun, para penulis tinjauan ini mendesak pemerintah-pemerintah di seluruh dunia berhenti melakukan ekspansi bahan bakar fosil dan menghentikan pengembangannya untuk membatasi kerusakan yang diakibatkan krisis iklim.
“Polusi bahan bakar fosil berdampak pada kesehatan di setiap tahap kehidupan, dengan peningkatan risiko untuk berbagai kondisi mulai dari kelahiran prematur hingga leukemia pada masa kanak-kanak dan depresi berat,” kata salah satu penulis laporan tersebut, asisten profesor ilmu kesehatan lingkungan di Sekolah Kesehatan Masyarakat UC Berkeley David J.X. González.
Ia menambahkan dunia harus segera berhenti melakukan ekstraksi untuk bahan bakar fosil. Gonzalez mendesak pemerintah-pemerintah mengganti energi untuk rumah sekolah, rumah sakit dan infrastruktur ke energi bersih.