REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menargetkan pembiayaan rumah rendah emisi hingga 20.000 unit pada tahun ini dengan meningkatkan porsi pembiayaan berkelanjutan sebagai wujud komitmen perusahaan dalam menerapkan praktik perbankan ramah lingkungan (green banking).
“Harapannya, tahun ini bisa mencapai 20.000 rumah rendah emisi, kalau bisa 30.000 unit. Sampai 2029, harapannya kita ingin membangun 150.000 unit dan sampai 2030 kita harap 200.000 unit,” kata Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo dalam keterangan yang diterima di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Program rumah rendah emisi diluncurkan BTN pada kuartal IV 2024 bersama sejumlah pengembang, dengan target pembangunan 1.000 unit rumah rendah emisi dalam tiga bulan dan telah tercapai.
Hingga akhir 2025, BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk pembangunan 11.000 rumah rendah emisi yang dilakukan oleh berbagai pengembang di sejumlah daerah, antara lain Legok (Banten), Cileungsi (Kabupaten Bogor), Medan, Semarang, Cirebon, dan Bekasi.
Program rumah rendah emisi yang telah berjalan selama dua tahun ini didukung oleh sejumlah mitra startup yang memproduksi material atau bahan bangunan ramah lingkungan (eco-friendly) dari sampah plastik yang sudah tidak bernilai.
Beberapa startup produsen material eco-friendly tersebut antara lain Rebrick, Plustik, dan Green Brick. Para startup tersebut mengumpulkan dan mengolah sampah plastik berupa bungkus mi instan serta sachet sabun dan sampo menjadi bahan bangunan untuk lantai, paving, dan dinding.
Setiyo mengatakan setiap produsen memiliki produk yang berbeda-beda, namun saling melengkapi. Dengan pengembangan rumah rendah emisi ini, turut tercipta sejumlah startup baru di bidang daur ulang plastik.
“Kami sedang mencari pengusaha di setiap pulau karena bisnis ini inklusif, jadi siapa saja bisa terlibat. Saat ini angkanya baru 11.000 rumah rendah emisi. Kalau mau mencapai jutaan, tentunya perlu dukungan lebih banyak startup,” kata Setiyo.
Salah satu upaya perseroan untuk menjaring startup potensial baru yakni menggelar ajang kompetisi tahunan BTN Housingpreneur yang melahirkan berbagai inovasi untuk mendukung sektor perumahan. Untuk mendorong lebih banyak pengembang terlibat dalam program rumah rendah emisi, BTN akan menstandardisasi insentif yang diberikan kepada pengembang dalam bentuk paket yang lebih menarik.
“Bunga untuk pengembang rumah rendah emisi juga sudah diturunkan. Nanti akan kami standardisasi, misalnya suku bunganya bisa turun 25 basis poin. Jadi macam-macam insentifnya,” kata Setiyo.
Selain bermitra dengan pengembang dan startup daur ulang, BTN juga melibatkan masyarakat, khususnya nasabah kredit pemilikan rumah (KPR), untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon.
Program utama yang dijalankan yakni “Bayar Angsuranmu Pakai Sampahmu”, yang memungkinkan debitur KPR BTN mengumpulkan sampah rumah tangga melalui startup Rekosistem. Sampah tersebut kemudian dikonversi menjadi rupiah ke dalam tabungan nasabah untuk mengurangi angsuran KPR.
Untuk semakin memantapkan posisi dalam prinsip keberlanjutan, BTN menargetkan porsi portofolio kredit berkelanjutan atau environmental, social, and governance (ESG) meningkat dari 52 persen menjadi 60 persen pada 2026.
“Portofolio ESG BTN juga mencakup pembiayaan kepemilikan rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), karena pemberdayaan MBR merupakan aspek sosial dalam ESG,” kata Setiyo.