REPUBLIKA.CO.ID, ALKHOBAR -- Warga di seluruh Provinsi Timur Arab Saudi diimbau mengambil tindakan pencegahan pada Kamis (23/7/2026) setelah Pusat Meteorologi Nasional memperingatkan gelombang panas yang diperkirakan akan mendorong suhu hingga 49-50 derajat Celsius di sejumlah kota dan provinsi.
Menurut pusat tersebut, cuaca panas ekstrem ini memengaruhi Dammam, Dhahran, Alkhobar, Al-Khafji, Al-Nairyah, Qaryat Al-Ulya, Al-Jubail, Ras Tanura, Qatif, Buqayq, Al-Uyaynah, Al-Ahsa, dan Al-Hajjer. Peringatan tersebut berlaku hingga pukul 17.00.
Peringatan ini muncul ketika sebagian besar wilayah Kerajaan Arab Saudi mengalami puncak musim panas. Kondisi tersebut mendorong pihak berwenang mengimbau masyarakat agar menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, terutama pada jam-jam terpanas pada siang hari. Hal itu dikutip dari laman Arab News, Jumat (24/7).
Para pejabat juga menyarankan warga untuk tetap terhidrasi, mengenakan pakaian berwarna terang, dan sebisa mungkin menghindari aktivitas berat di luar ruangan. Bagi banyak orang yang tinggal di Provinsi Timur, suhu mendekati 50 derajat Celsius telah menjadi kenyataan setiap tahun sehingga mengharuskan penyesuaian signifikan terhadap rutinitas harian mereka.
Banyak penduduk mengatakan kini mereka menjadwalkan urusan pada pagi hari atau setelah matahari terbenam serta membatasi aktivitas luar ruangan pada siang hari ketika suhu mencapai puncaknya. "Panasnya luar biasa," kata Ahmed Al-Qahtani, seorang penduduk Dammam.
"Anda bisa merasakannya begitu melangkah keluar. Bahkan berjalan dari tempat parkir ke kantor terasa melelahkan, jadi saya mencoba menyelesaikan apa pun di luar ruangan sebelum pukul 10 pagi," ujarnya.
Penduduk lain mengatakan panas yang intens telah mengubah cara keluarga menghabiskan hari-hari musim panas. Taman, pantai, dan ruang terbuka lainnya kini sebagian besar kosong pada siang hari.
Fatimah Al-Otaibi, yang tinggal di Alkhobar, mengatakan keluarganya menghindari keluar rumah hingga setelah matahari terbenam. "Kami telah sepenuhnya mengubah rutinitas kami," katanya.
"Anak-anak tetap di dalam rumah pada siang hari, dan kami hanya keluar pada malam hari ketika cuaca menjadi lebih nyaman. Bahkan saat itu pun, masih terasa sangat panas," ujar Fatimah.