Selasa 08 Sep 2026 18:00 WIB

Eiger Nature Integrasikan Ekowisata dan Konservasi

Pengembangan kawasan telah melalui sejumlah proses perizinan dan dokumen persetujuan.

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Satria K Yudha
Kawasan ekowisata di Puncak, Bogor.
Foto: Eiger Nature
Kawasan ekowisata di Puncak, Bogor.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Pengembangan kawasan wisata di wilayah Puncak perlu memperhitungkan fungsi ekologis dan daya dukung lingkungan, terutama ketika kawasan berdekatan dengan area konservasi. Pertimbangan tersebut menjadi salah satu aspek dalam pengembangan Eiger Nature di Bogor, Jawa Barat, yang menggabungkan aktivitas ekowisata dengan pengelolaan lingkungan dan kawasan.

Eiger Nature merupakan pengembangan dari Eiger Adventure Land yang berada di kawasan Puncak. Menjelang pembukaan untuk publik, pengelolaan kawasan tersebut mencakup area di lahan PTPN I Regional 2 dan Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Area di Zona Pemanfaatan TNGGP tercatat seluas 253,66 hektare. Pemanfaatannya mengacu pada SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.305/Menlhk/Setjen/KSA.3/4/2019 tanggal 24 April 2019 tentang Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA) pada Zona Pemanfaatan TNGGP.

Sebelum izin diterbitkan, dilakukan kajian mengenai daya dukung dan daya tampung kawasan serta penyusunan rencana pemanfaatan dengan mempertimbangkan fungsi ekologis dan habitat asli di lokasi.

Berdasarkan data yang disampaikan perusahaan, Koefisien Dasar Bangunan (KDB) pada area Eiger Nature di kawasan TNGGP saat ini sebesar 0,15 persen. Sementara itu, ketentuan pemanfaatan kawasan bagi pemegang IUPSWA memperbolehkan pembangunan maksimal 10 persen dari luas izin.

Direktur Utama Eiger Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, perubahan nama dari Eiger Adventure Land menjadi Eiger Nature berkaitan dengan penyesuaian konsep pengelolaan kawasan. “Perubahan ini bukan sekadar tentang nama, tetapi tentang komitmen kami untuk membangun ekowisata yang dapat menjadi berkat bagi pengunjung, alam, budaya, dan masyarakat. Kami ingin mereka yang berkunjung tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga pulang membawa pengalaman, pemahaman, dan makna yang baru,” ujar Imanuel, Selasa (8/9/2026).

Area lain yang dikelola untuk kegiatan ekowisata berada di lahan PTPN I Regional 2 seluas 73,23 hektare. KDB pada area tersebut tercatat 3,64 persen, sedangkan perusahaan menyebut lebih dari 90 persen lahan masih berupa area hijau dengan pohon, perdu, dan semak.

Pada area tersebut, perusahaan juga mencatat kegiatan penanaman lebih dari 120.000 pohon serta sekitar 8 juta semak dan tanaman penutup tanah. Selain itu, dilakukan pendataan keanekaragaman hayati di Zona Pemanfaatan TNGGP serta pengelolaan air dan lingkungan.

Dari sisi administrasi, pengembangan kawasan telah melalui sejumlah proses perizinan dan dokumen persetujuan sejak 2018. Dokumen yang tercantum antara lain perizinan tata ruang, persetujuan lingkungan, pengesahan site plan, serta perizinan bangunan.

Untuk persetujuan lingkungan, dokumen yang telah diterbitkan mencakup rekomendasi UKL-UPL dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, rekomendasi revisi UKL-UPL, serta SK Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) Nomor 600.4.5/46/Kpts-KL/TL-DLH/2025 tanggal 2 Desember 2025.

Dalam proses penataan kawasan, Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 2889 Tahun 2025 tentang Pencabutan Sanksi diterbitkan pada 22 November 2025. Keputusan tersebut terbit setelah PT Eigerindo MPI melakukan upaya administratif dan menindaklanjuti hasil verifikasi lapangan serta arahan pemerintah.

Dokumen tersebut menjadi salah satu catatan dalam proses penataan kawasan sebelum pembukaan Eiger Nature untuk publik. Pemerintah juga mempertimbangkan upaya PT Eigerindo MPI mengikuti arahan pemerintah pusat dan daerah dalam pemulihan lahan kritis melalui pendekatan ekowisata serta dampaknya terhadap masyarakat lokal.

Dalam pengembangan konsep kawasan, Eiger Nature menggunakan pendekatan 7E Ekowisata, yakni Ekologi, Etnologi, Ekonomi, Edukasi, Estetika, Etika, dan Entertainment. Pendekatan tersebut mencakup aspek lingkungan, budaya, ekonomi, edukasi, dan aktivitas wisata.

Eiger Nature menyatakan akan membuka ruang komunikasi dengan pihak yang memiliki perhatian terhadap lingkungan serta memberikan informasi mengenai pengelolaan lingkungan kepada pengunjung.

Pengembangan kawasan wisata di Puncak akan berjalan beriringan dengan kebutuhan menjaga fungsi lingkungan dan memenuhi ketentuan pemanfaatan kawasan. Karena itu, penerapan pengelolaan lingkungan setelah kawasan beroperasi akan menjadi faktor penting dalam melihat keberlanjutan aktivitas wisata di wilayah tersebut.

Berita Lainnya

Rekomendasi