REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Praktik keberlanjutan atau sustainability kini dinilai semakin menentukan ketahanan bisnis industri ekstraktif di tengah gejolak harga komoditas, tuntutan lingkungan, kebutuhan energi, dan perubahan standar pasar global. PT Vale Indonesia Tbk menilai strategi keberlanjutan perlu terintegrasi dengan keputusan bisnis agar perusahaan mampu bertahan dalam berbagai kondisi pasar.
Director and Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk Budiawansyah mengatakan, pengalaman perusahaan selama lebih dari lima dekade menunjukkan keberlanjutan harus ditempatkan sebagai strategi untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
Ia menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi insinyur muda sekitar 20 tahun lalu. Saat itu, perusahaan menghadapi pilihan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam ekspansi pertambangan yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.
Menurut Budiawansyah, pembangkit listrik berbasis batu bara menjadi salah satu pilihan karena mampu menyediakan energi dalam jumlah besar dengan biaya relatif murah. Namun, Vale yang saat itu masih bernama PT International Nickel Indonesia Tbk (Inco) memilih mengembangkan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga air.
“Keberlanjutan ini adalah strategi,” kata Budiawansyah dalam diskusi The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks yang digelar Bank DBS Indonesia dan Tenggara Strategics, Kamis (20/8/2026).
Keputusan tersebut membutuhkan investasi besar. Pada 2005, perusahaan mengalokasikan lebih dari 490 juta dolar AS untuk pengembangan energi tersebut.
Budiawansyah mengatakan, keputusan itu kemudian menjadi penting ketika industri nikel menghadapi volatilitas harga komoditas. Pergerakan harga yang tajam membuat perusahaan membutuhkan strategi untuk menjaga ketahanan bisnis dalam berbagai kondisi pasar.
“Harga komoditas itu seperti rollercoaster. Pernah ada suatu periode harga nikel itu mencapai harga tertinggi. Tiba-tiba dia turun sekali. Luar biasa,” katanya.
Dalam kondisi harga rendah, perusahaan menghadapi dilema karena produksi dapat menyebabkan kerugian, sementara penghentian produksi juga berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Menurut Budiawansyah, pengalaman PT Vale selama 58 tahun menunjukkan keberlangsungan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga kemampuan mengintegrasikan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Industri pertambangan menghadapi tantangan tersendiri karena aktivitas ekstraktif, termasuk pertambangan nikel, membutuhkan pembukaan lahan dan beririsan dengan ekosistem serta sumber daya air.
“Menambang nikel itu memang membutuhkan pembukaan lahan yang besar. Dengan metodologi seperti itu, tidak bisa dipungkiri. Jadi, apa yang bisa kita lakukan adalah berbeda,” katanya.
Menurut dia, penggunaan energi menjadi salah satu fokus strategi jangka panjang perusahaan. Teknologi dan optimalisasi sistem juga terus dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi.
Selain energi, perusahaan perlu membuktikan bahwa aktivitas pertambangan dapat dilakukan secara bertanggung jawab, termasuk dalam pengelolaan sumber daya air.
“Bisakah kita melakukan bisnis ini dengan cara yang baik, dengan cara yang bertanggung jawab? Jawabannya bisa. We have been operating 58 years,” ujarnya.
Ia mengatakan, kegiatan pertambangan PT Vale berada di kawasan dengan sumber daya air dan ekosistem yang harus dijaga. Karena itu, pengelolaan air menjadi salah satu aspek penting dalam keberlanjutan operasi perusahaan.
“Kita bisa berjalan bersamaan dengan aspek lingkungan, water resource management,” katanya.
Di sisi lain, akses perusahaan terhadap pasar global juga semakin selektif. Menurut Budiawansyah, kepemilikan sumber daya mineral yang besar tidak otomatis menjamin keberhasilan bisnis apabila proses produksi tidak memenuhi tuntutan pasar dan standar keberlanjutan.
“Percuma kalau kita punya sumber daya, tetapi tidak ada yang memiliki,” ujarnya.
Senior Vice President Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Agnes Theresa mengatakan, aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) kini semakin penting dalam penilaian risiko perusahaan oleh perbankan.
Menurut Agnes, perubahan tersebut terlihat dalam proses onboarding nasabah. Jika sebelumnya bank lebih banyak menilai risiko keuangan dan laporan keuangan, kini aspek ESG juga dikaji secara mendalam.
“Kalau dulu mungkin yang kami perhatikan adalah financial risk perspective, financial statements, saat ini ESG sudah menjadi risk assessment yang perlu kita deep dive dengan baik,” kata Agnes.
Ia menilai ESG tidak semestinya hanya diposisikan sebagai program tambahan atau kewajiban pelaporan. Aspek tersebut perlu masuk ke strategi utama perusahaan dan memengaruhi model bisnis serta pengambilan keputusan.
Agnes mengatakan, perubahan juga terjadi dari sisi investor. Menurut dia, investor kini semakin mendalami aspek keberlanjutan ketika mengevaluasi perusahaan. “Sebagai bank, kami melihat perspektif ESG di mata investor sudah shifting,” katanya.
Ia mengatakan, investor global dan institusional semakin menggunakan pendekatan yang kompleks dalam mengevaluasi kinerja keberlanjutan perusahaan. Kondisi tersebut membuat perusahaan yang ingin mempertahankan akses terhadap pembiayaan dan pasar global perlu menempatkan ESG dalam strategi bisnis.
Bagi industri ekstraktif, keberlanjutan tidak hanya menyangkut reputasi, tetapi juga ketahanan operasional, akses energi, pembiayaan, pasar global, dan penerimaan terhadap kegiatan usaha dalam jangka panjang.