Jumat 04 Sep 2026 15:00 WIB

Badan PBB Sebut Suhu Global Segera Lewati Ambang Batas Aman, Apa Risikonya?

Kenaikan suhu di atas 1,5 derajat celsius meningkatkan risiko kerusakan permanen.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Api membakar lahan di Kelurahan Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (27/8/2026). Dalam upaya Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah sebanyak 10.700 personel gabungan dikerahkan yang terdiri dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, hingga relawan, serta dukungan satu pesawat untuk modifikasi cuaca dan patroli udara, serta enam helikopter untuk pemadaman karhutla melalui udara.
Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Api membakar lahan di Kelurahan Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (27/8/2026). Dalam upaya Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah sebanyak 10.700 personel gabungan dikerahkan yang terdiri dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, hingga relawan, serta dukungan satu pesawat untuk modifikasi cuaca dan patroli udara, serta enam helikopter untuk pemadaman karhutla melalui udara.

REPUBLIKA.CO.ID, NAIROBI – Badan Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan suhu global akan segera melampaui 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri. Kondisi tersebut berisiko memperparah cuaca ekstrem dan meningkatkan ancaman terhadap kesehatan, pangan, air, ekosistem, serta perekonomian.

Peringatan tersebut disampaikan UNEP dalam laporan terbaru berjudul Limiting Overshoot. Laporan itu menyebut jalur overshoot, peak and decline, yakni melampaui ambang, mencapai puncak, kemudian menurunkan suhu, sebagai pilihan terbaik yang masih tersedia untuk membatasi besaran dan durasi pemanasan di atas 1,5 derajat Celsius sesuai Perjanjian Paris.

Baca Juga

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, berbagai kejadian cuaca ekstrem menunjukkan dampak perubahan iklim semakin nyata.

“Gelombang panas yang menyengat, kebakaran hutan yang berkobar, dan banjir mematikan pada musim panas ini merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi. Kita harus membuat kenaikan di atas 1,5 derajat sekecil dan sesingkat mungkin. Itu membutuhkan lompatan ambisi,” kata Guterres seperti dikutip dari siaran pers UNEP, Rabu (2/9/2026).

Menurut UNEP, jalur tersebut membutuhkan pengurangan emisi gas rumah kaca, termasuk metana, sesegera mungkin dan secara berkelanjutan. Suhu kemudian dapat diturunkan melalui pencapaian emisi bersih negatif dalam jangka panjang, dengan penghilangan karbon dioksida (carbon dioxide removal/CDR) sebagai salah satu komponennya.

CDR merupakan proses menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya, antara lain melalui penghijauan. Pada saat yang sama, adaptasi diperlukan untuk mengurangi kerentanan masyarakat, komunitas, dan perekonomian terhadap dampak perubahan iklim.

Namun, kemampuan adaptasi memiliki batas dan dampak yang tidak dapat dipulihkan dapat terjadi apabila suhu puncak tidak berhasil ditekan.

“Tidak ada hasil yang baik jika kita tetap berada di atas 1,5 derajat Celsius. Di seluruh dunia, gelombang panas ekstrem telah membuktikan dampak iklim akan datang lebih cepat, menghantam lebih keras, dan berlangsung lebih lama—menelan lebih banyak korban jiwa dan menyebabkan gangguan yang lebih dalam,” kata Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen.

“Sekarang saatnya kita menggandakan upaya aksi iklim. Kita bisa dan harus berada di jalur yang benar, dengan memangkas emisi gas rumah kaca, memperkuat ketahanan dan adaptasi, serta memastikan kenaikan di atas 1,5 derajat Celsius sekecil dan sesingkat mungkin,” ujarnya.

UNEP menyebut skenario paling optimistis masih menghasilkan puncak kenaikan suhu sekitar 1,8 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri. Sebagian besar skenario lainnya memperkirakan puncak yang lebih tinggi.

Setiap tambahan fraksi derajat dan setiap tahun yang dihabiskan di atas 1,5 derajat Celsius akan meningkatkan risiko cuaca ekstrem, hilangnya ekosistem, serta ancaman terhadap negara kepulauan kecil dan kota pesisir. Dampaknya juga mencakup kesehatan manusia, ketahanan pangan, pasokan air, infrastruktur, dan perekonomian.

Risiko terlampauinya titik kritis (tipping points) yang tidak dapat dipulihkan juga meningkat seiring besarnya dan lamanya periode suhu tinggi. Risiko tersebut mencakup ketidakstabilan lapisan es, degradasi hutan hujan Amazon, serta terganggunya Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), sistem arus laut yang berperan penting dalam mengatur iklim.

UNEP menilai transisi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dapat menekan emisi sekaligus meningkatkan kualitas udara dan kesehatan, menurunkan biaya energi, serta memperluas akses listrik. Kecepatan tindakan akan menentukan seberapa tinggi suhu mencapai puncak, berapa lama bertahan, dan seberapa cepat dapat diturunkan kembali.

UNEP juga menekankan bahwa net zero bukan tujuan akhir, melainkan tonggak menuju emisi bersih negatif. CDR diperlukan sebagai tambahan, bukan pengganti, pengurangan emisi gas rumah kaca yang berkelanjutan.

Namun, CDR hanya dapat berkontribusi mengembalikan suhu di bawah 1,5 derajat Celsius apabila pemanasan puncak tetap jauh di bawah 2 derajat Celsius dan seluruh emisi tersisa berhasil dikurangi.

UNEP menyatakan keterlambatan tindakan membuat sejumlah kehilangan yang tidak dapat dipulihkan dan perubahan kondisi permanen hampir pasti terjadi. Sejumlah komunitas kemungkinan terpaksa berpindah tempat atau mengubah mata pencaharian.

Menteri Perubahan Iklim dan Energi Australia sekaligus Presiden Negosiasi COP31 Chris Bowen mengatakan setiap fraksi derajat pemanasan di atas 1,5 derajat Celsius akan meningkatkan dampak iklim, dengan negara-negara Pasifik berada di garis depan.

“Setiap fraksi derajat pemanasan di atas 1,5 derajat menghasilkan dampak iklim yang semakin besar dan parah, dengan keluarga Pasifik berada di garis depan,” kata Bowen.

Menurut dia, krisis energi terbaru kembali mengingatkan dunia mengenai pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mempercepat transisi energi terbarukan.

“COP31 merupakan kesempatan untuk mengubah ambisi menjadi tindakan, dengan Türkiye, Australia dan Pasifik menghadirkan COP yang praktis dan berorientasi pada solusi,” ujarnya.

Presiden COP31 Murat Kurum mengatakan setiap fraksi derajat pemanasan dan setiap tahun dalam kondisi overshoot akan meningkatkan risiko iklim serta potensi kehilangan yang tidak dapat dipulihkan.

“COP31 harus mengubah urgensi ini menjadi tindakan konkret. Kita perlu mempercepat elektrifikasi global, mengurangi emisi metana dari limbah, memperkuat ketahanan iklim kota, serta meningkatkan ketahanan ekosistem laut dan pesisir,” katanya.

Ia menambahkan, mitigasi dan adaptasi harus berjalan secara bersamaan. "Pilihan yang kita buat hari ini akan menentukan seberapa tinggi suhu mencapai puncaknya, berapa lama suhu bertahan di sana, dan seberapa aman kita dapat kembali ke 1,5 derajat Celsius,” kata Kurum.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi