REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Beberapa tahun terakhir, pendingin ruangan (AC) tidak hanya menyejukkan udara panas. AC kerap menyelamatkan nyawa di beberapa wilayah dengan gelombang panas terdahsyat. Diperkirakan setiap tahun penggunaan AC menyelamatkan 5.000 nyawa di Amerika Serikat (AS) saja.
Di tengah pemanasan global, gelombang panas menghantam setiap benua. PBB memperkirakan setiap tahun hampir setengah juta orang tewas akibat udara panas sehingga keberadaan AC lebih dibutuhkan dibandingkan sebelumnya.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Health pada Senin (31/8/2026) lalu melaporkan penggunaan AC menyelamatkan hampir 58 ribu nyawa antara 2010 sampai 2020 di AS saja. Meski dapat menyelamatkan nyawa, penggunaan AC bertolak belakang dengan upaya pemangkasan emisi untuk menghindari dampak terburuk pemanasan global.
Badan Energi Internasional (IEA) dan Program Lingkungan PBB (UNEP) memperkirakan lonjakan penggunaan AC di seluruh dunia akan mendorong permintaan listrik hingga tiga kali lipat sehingga AC menjadi salah satu perangkat elektronik paling bermasalah.
Karena sebagian besar listrik di seluruh dunia masih berasal dari bahan bakar fosil, PBB memproyeksikan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari penggunaan AC naik dari 4,5 miliar menjadi 7,2 miliar ton dalam 25 tahun mendatang. Setara dengan polusi karbon yang dihasilkan AS dan Eropa saat ini.
"Semua orang tahu AC mendinginkan, tapi dari sudut pandang perubahan iklim, AC tidak ideal, AC menghasilkan lebih banyak emisi karbon dan mempercepat masalah-masalah pemanasan iklim," kata profesor epidemiologi Yale School of Public Health Kai Chen, salah satu penulis penelitian tentang AC dan perubahan iklim, Selasa (1/9/2026).
Gejolak geopolitik yang memicu krisis energi pada tahun ini mendorong sejumlah negara seperti Bangladesh, Kamboja, Yordania, Malaysia, Filipina, Seychelles, Singapura, dan Sri Lanka membatasi penggunaan AC di kantor-kantor. Beberapa negara mewajibkan kantor pemerintah untuk mematikan AC satu atau dua hari di hari kerja.
Pakar dari 75 negara dan 250 kota akan mencari solusi untuk mendinginkan bumi selama kenaikan suhu global tanpa memperburuk dampak perubahan iklim dalam pertemuan Global Cooling Pledge di Singapura pada September ini.
Salah satu ukuran yang digunakan ilmuwan untuk menghitung akumulasi panas dengan potensi penggunaan AC adalah apa yang disebut cooling degree days, yaitu penghitungan untuk mengetahui berapa banyak energi yang diperlukan untuk mendinginkan sebuah ruangan saat cuaca di luar ruangan panas.
Menurut Badan Informasi Energi (EIA) AS, cooling degree days AS naik 28 persen sejak 1990. Tahun 2024 menjadi tahun dengan peningkatan cooling degree days tertinggi. Data EIA menunjukkan kecepatan kenaikan cooling degree days pada Maret 2026 sudah melampaui kecepatan peningkatan tahun 2024.
Cooling degree days Eropa naik dua kali lipat sejak 1990, sementara penggunaan AC naik 44 persen. Sementara Badan Energi Internasional mencatat penggunaan AC naik tiga kali lipat di India dan dua kali lipat di Asia Tenggara.
Chen dan timnya menganalisis sekitar 30 juta catatan kematian terkait AC selama 11 tahun. Para peneliti menghitung tingkat suhu berbahaya di setiap daerah serta memperkirakan jumlah nyawa yang terselamatkan berkat penggunaan AC saat terjadi panas ekstrem.
Studi tersebut menemukan manfaat terbesar penggunaan AC berada di negara bagian dengan suhu musim panas yang tinggi, seperti Arizona, Florida, Texas, dan Louisiana. Manfaat serupa juga terlihat di wilayah selatan Nevada, Alabama, dan Mississippi.