Kamis 03 Sep 2026 13:40 WIB

Krisis Iklim Sebabkan 560 Juta Anak Terpapar Panas Ekstrem

Anak di negara tropis dengan pendapatan menengah bawah jadi yang paling rentan.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Gita Amanda
Penelitian terbaru menunjukkan anak-anak di seluruh dunia, terutama mereka yang tinggal di negara tropis berpendapatan menengah ke bawah, menjadi kelompok yang paling terdampak perubahan iklim. (ilustrasi)
Foto: Freepik
Penelitian terbaru menunjukkan anak-anak di seluruh dunia, terutama mereka yang tinggal di negara tropis berpendapatan menengah ke bawah, menjadi kelompok yang paling terdampak perubahan iklim. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian terbaru menunjukkan anak-anak di seluruh dunia, terutama mereka yang tinggal di negara tropis berpendapatan menengah ke bawah, menjadi kelompok yang paling terdampak perubahan iklim. Studi Vrije Universiteit Brussel (VUB) yang dipublikasikan di Science Advances mengungkap ketimpangan dampak krisis iklim berdasarkan usia sekaligus tingkat kekayaan.

Para peneliti mencatat berbagai kondisi lingkungan yang berkaitan dengan panas, seperti suhu udara, kelembapan, radiasi matahari, dan angin, dapat memengaruhi kesehatan manusia. Paparan panas berlebih dapat memicu berbagai masalah kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.

Baca Juga

Paparan panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi, sengatan panas atau heat stroke, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru hingga gagal ginjal. Risiko tersebut semakin besar ketika panas disertai kelembapan tinggi.

Tubuh manusia mengatur suhu melalui keringat. Namun, dalam kondisi lembap, keringat menjadi kurang efektif untuk mendinginkan tubuh. Karena itu, kombinasi suhu tinggi dan kelembapan dapat menimbulkan tekanan panas (heat stress) yang berbahaya.

Kerentanan terhadap panas juga berbeda menurut kelompok usia. Orang lanjut usia berusia 65 tahun ke atas serta bayi dan anak-anak berusia 0-9 tahun termasuk kelompok yang paling rentan.

Pada anak usia 0-4 tahun, panas ekstrem dapat berakibat fatal karena kemampuan tubuh mereka untuk menghasilkan keringat belum seefektif orang dewasa. Kebiasaan bermain di luar ruangan, kurang minum, serta ketergantungan pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan dasar juga meningkatkan risiko.

Paparan panas berlebih dapat memicu asma, gangguan pernapasan, dan gagal ginjal pada anak-anak. Bagi ibu hamil, paparan panas ekstrem juga dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Dampak panas juga dapat terjadi secara tidak langsung. Kekeringan dan menurunnya ketahanan pangan akibat lonjakan suhu dapat meningkatkan risiko malnutrisi pada anak, yang kemudian memengaruhi pertumbuhan dan tingkat kematian.

Anak-anak di negara miskin menghadapi risiko lebih besar karena tekanan panas terjadi bersamaan dengan persoalan yang sudah ada, seperti penyakit menular, kekurangan nutrisi, keterbatasan akses layanan kesehatan, kondisi perumahan yang tidak layak, serta lemahnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan suhu. Sebaliknya, di negara-negara kaya, kelompok lanjut usia menjadi yang paling terdampak oleh lonjakan suhu.

Penelitian VUB memperkirakan sekitar 560 juta anak berusia 0-9 tahun di seluruh dunia kini mengalami sedikitnya satu bulan tambahan, atau 30 hari atau lebih, tekanan panas ekstrem setiap tahun akibat perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.

“Perubahan iklim telah menyebabkan ratusan juta anak menderita akibat panas berbahaya di seluruh dunia, yang menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka. Anak-anak di negara berkembang menghadapi paparan ekstrem iklim yang tidak proporsional saat ini maupun masa depan, meskipun kontribusi mereka terhadap emisi gas rumah kaca paling sedikit dalam sejarah,” kata peneliti VUB sekaligus penulis utama penelitian, Rosa Pietroiusti, dalam pernyataannya, Kamis (3/9/2026).

Pietroiusti mengatakan kemiskinan, perumahan yang tidak memadai, keterbatasan akses terhadap pendingin ruangan, dan sistem kesehatan yang buruk membuat banyak anak memiliki sedikit pilihan untuk melindungi diri dari panas.

VUB menemukan peningkatan terbesar tekanan panas lembap (humid heat) akibat perubahan iklim terjadi di wilayah tropis dan negara berkembang atau miskin. Wilayah tersebut memiliki populasi yang relatif lebih muda sehingga lebih banyak anak yang terdampak.

Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang di wilayah tropis, termasuk negara dengan jumlah hari tekanan panas yang diatribusikan terhadap perubahan iklim tertinggi di dunia, yakni sekitar 90-150 hari per tahun.

Dalam proyeksi pemanasan global 1,5 derajat Celsius dan 2 derajat Celsius, jumlah anak yang mengalami tambahan sedikitnya satu bulan panas berbahaya diperkirakan terus meningkat. Pada pemanasan 1,5 derajat Celsius, jumlahnya diproyeksikan mencapai 620 juta anak atau sekitar 49 persen anak usia 0-9 tahun. Sementara pada pemanasan 2 derajat Celsius, jumlah tersebut meningkat menjadi 650 juta anak atau sekitar 59 persen.

Pada pemanasan 1,5 derajat Celsius, sekitar 4 persen anak usia 0-9 tahun atau 51 juta anak diproyeksikan mengalami sedikitnya 150 hari tekanan panas yang diatribusikan terhadap perubahan iklim setiap tahun. Angka tersebut meningkat dari sekitar 3 persen atau 40 juta anak dalam kondisi saat ini.

Jika pemanasan mencapai 2 derajat Celsius, proporsinya melonjak menjadi sekitar 10 persen atau 115 juta anak.

VUB menegaskan tekanan panas lembap lebih berbahaya dibandingkan panas kering karena kelembapan tinggi menghambat kemampuan tubuh untuk berkeringat dan mendinginkan diri. Anak-anak sangat rentan terhadap panas ekstrem karena tubuh mereka memanas lebih cepat dibandingkan orang dewasa, kemampuan berkeringat mereka kurang efisien, dan mereka masih bergantung pada perawatan orang dewasa.

Selain menyebabkan dehidrasi dan sengatan panas yang berbahaya, paparan panas ekstrem juga dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan kognitif anak.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi