REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai investasi energi bersih dapat menjadi salah satu motor industrialisasi Indonesia. Pengembangan energi terbarukan dinilai perlu terhubung dengan kawasan industri manufaktur agar menghasilkan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan, energi bersih kini tidak lagi sekadar menjadi agenda lingkungan. Perkembangan investasi energi bersih juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda investasi dan industrialisasi Indonesia.
“Jadi energi bersih ini sudah menjadi keharusan,” kata Esther dalam Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, sejumlah negara telah meningkatkan investasi energi bersih untuk menghadapi dinamika global dan dampak konflik geopolitik. Indonesia perlu merespons perkembangan tersebut dengan meningkatkan investasi di sektor energi terbarukan.
Esther menyebut investasi EBTKE di Indonesia baru mencakup sekitar 7,2 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan investasi energi bersih sekaligus mengoptimalkan perannya terhadap perekonomian.
“Agenda 100 Ekonom ini memang ditempatkan bukan hanya semata-mata menjadi agenda lingkungan, tetapi juga menjadi agenda investasi dan industrialisasi,” ujarnya.
Esther mengatakan, pengembangan energi terbarukan perlu terhubung dengan kawasan industri manufaktur. Dengan demikian, pasokan energi bersih dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri yang berkembang.
Indef juga mengusulkan pengembangan renewable energy zone di Indonesia. Kawasan tersebut dinilai perlu terhubung dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) agar pasokan dan permintaan energi dapat bertemu.
Menurut Esther, keterhubungan antara renewable energy zone dan KEK penting untuk membentuk ekosistem industri yang didukung energi terbarukan. Model tersebut juga dapat meningkatkan daya tarik investasi dan pengembangan industri manufaktur.
“Renewable energy zone itu harus matching, ya, harus kawin dengan Kawasan Ekonomi Khusus, artinya Special Economic Zone. Karena supaya antara supply dan demand energi itu bisa ketemu,” tuturnya.
Pengembangan energi bersih dengan pendekatan tersebut dinilai dapat memberikan manfaat lebih luas terhadap perekonomian. Transisi energi tidak hanya diarahkan untuk menekan dampak lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Langkah tersebut relevan dengan target pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen. Indef sebelumnya menilai pencapaian target tersebut membutuhkan sumber pertumbuhan baru dan tidak cukup hanya mengandalkan sumber pertumbuhan ekonomi konvensional.
Karena itu, investasi energi bersih perlu berjalan bersama pengembangan kawasan industri dan manufaktur. Integrasi tersebut dapat mempertemukan kebutuhan energi industri dengan potensi energi terbarukan sekaligus mendukung proses industrialisasi Indonesia.