REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia turut berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Anggota Komisi IX DPR RI Obet Rumbruren mengimbau penguatan perlindungan kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan, selama periode karhutla.
Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Obet Rumbruren mengatakan, asap karhutla mengandung partikel halus, karbon monoksida, dan sejumlah polutan yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
"Paparan asap karhutla secara langsung meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kesehatan lainnya," kata Obet melalui keterangannya, Senin (7/9/2026).
Menurut Obet, paparan asap dapat memicu sejumlah keluhan kesehatan, seperti batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, iritasi mata, dan iritasi kulit. Risiko tersebut perlu mendapat perhatian terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan.
Karena itu, Obet mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Aktivitas di luar ruangan juga perlu disesuaikan, terutama bagi kelompok rentan.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan diimbau menggunakan masker yang memadai. Warga yang mengalami gejala gangguan pernapasan juga disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Obet mengatakan, perlindungan kesehatan masyarakat perlu berjalan bersamaan dengan upaya pengendalian karhutla. Kesiapan fasilitas dan tenaga kesehatan serta pemantauan kualitas udara dinilai penting untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kabut asap.
"Upaya pencegahan karhutla di hulu tetap menjadi kunci utama. Namun perlindungan kesehatan masyarakat yang sudah terpapar harus menjadi prioritas segera," kata dia.
Ia juga mengimbau masyarakat mengikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi. Dengan informasi tersebut, warga dapat menyesuaikan aktivitas dan mengambil langkah perlindungan yang diperlukan ketika kualitas udara menurun.