REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN -- Perubahan iklim, kesenjangan pendidikan, transformasi ekonomi, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan global yang membutuhkan pendekatan riset lintas disiplin ilmu. Perguruan tinggi dinilai perlu mengembangkan penelitian yang mampu menghasilkan solusi atas berbagai persoalan tersebut sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan publik berbasis sains.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Mohammad Fauzan Adziman mengatakan, pendekatan multidisiplin perlu menjadi landasan pengembangan riset perguruan tinggi. Menurut dia, penelitian tidak seharusnya berjalan secara sektoral, tetapi mampu menghubungkan berbagai bidang keilmuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
"Karena itu International Conference seperti ini, bagaimana multidisiplin dalam academic studies, sebetulnya sudah harus menjadi ruh dari pengembangan riset,” ujar Fauzan dalam konferensi pers The 5th International Conference on Multidisciplinary Academic Studies (ICOMUS) 2026 di Universitas Terbuka (UT), Tangerang Selatan, Kamis (22/10/2026).
Fauzan menekankan, perguruan tinggi perlu mengembangkan peran riset sebagai sumber pemikiran dan solusi bagi berbagai persoalan. Dengan demikian, penelitian tidak hanya dipandang sebagai beban anggaran atau cost center, tetapi juga dapat memberikan masukan bagi pengambilan kebijakan.
Kepala Pusat Penelitian Keilmuan LPPM UT Mery Noviyanti mengatakan, kompleksitas persoalan global membuat pendekatan dari satu bidang ilmu saja tidak lagi memadai. Perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan persoalan sosial ekonomi memiliki keterkaitan yang membutuhkan kerja sama antardisiplin.
"Ada tantangan global, utamanya perubahan iklim, kesenjangan pendidikan, transformasi ekonomi, dan juga perkembangan teknologi termasuk AI, sehingga ini tidak bisa diselesaikan dengan satu disiplin saja," ujar Mery.
Menurut Mery, penelitian yang melibatkan bidang sains, teknologi, sosial, dan ekonomi dapat menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap suatu persoalan. Kolaborasi tersebut diperlukan agar hasil riset tidak hanya menjelaskan masalah, tetapi juga memberikan alternatif penyelesaian.
"Untuk itu diperlukan berbagai disiplin, misalnya dari sains, teknologi, sosial, ekonomi. Berkolaborasi sehingga dapat dengan mudah menjawab tantangan-tantangan tersebut," kata Mery.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Bisnis UT Hendrian mengatakan, pendekatan multidisiplin memungkinkan penelitian dilakukan secara lebih komprehensif. Menurut dia, keterlibatan berbagai bidang keilmuan dapat meningkatkan manfaat hasil penelitian bagi masyarakat.
"Saya melihat multidisiplin ini adalah riset-riset yang komprehensif sifatnya, sehingga nanti riset yang kita hasilkan itu benar-benar berdampak," kata Hendrian.
Hendrian menjelaskan, UT berupaya mengembangkan kerja sama penelitian secara berkelanjutan. Kolaborasi antarakademisi diharapkan dapat menghasilkan riset yang manfaatnya semakin terukur dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui ICOMUS 2026, UT menggandeng akademisi dari 11 perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, UIN Sunan Gunung Djati, dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Kerja sama tersebut menjadi wadah pertukaran gagasan dan pengembangan penelitian yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Hasil kolaborasi riset tersebut diharapkan dapat memberikan masukan bagi perumusan kebijakan publik berbasis sains. Selain itu, penelitian lintas disiplin juga diharapkan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.