Jumat 23 Oct 2026 11:30 WIB

Hadapi Perubahan Iklim, Layanan PAUD Perlu Didukung Pendanaan Berkelanjutan

Perubahan iklim perlu direspons dalam pengembangan sistem PAUD.

Kegiatan 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development di Jakarta, Kamis (22/10/2026), membahas penguatan layanan pendidikan anak usia dini dalam menghadapi perubahan iklim dan tantangan pendanaan berkelanjutan.
Foto: Kemendikdasmen
Kegiatan 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development di Jakarta, Kamis (22/10/2026), membahas penguatan layanan pendidikan anak usia dini dalam menghadapi perubahan iklim dan tantangan pendanaan berkelanjutan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) perlu disiapkan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim melalui kebijakan pendidikan dan dukungan pendanaan yang berkelanjutan. Selain itu, pemanfaatan teknologi sesuai usia anak dan penguatan peran keluarga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan pada tahap awal kehidupan.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Gogot Suharwoto mengatakan, perubahan iklim menjadi salah satu tantangan yang perlu direspons dalam pengembangan layanan PAUD. Persoalan tersebut membutuhkan dukungan kebijakan dan pembiayaan yang memadai.

Baca Juga

"Ada dua topik penting yang dibicarakan hari ini. Yang pertama adalah bagaimana kita mempersiapkan anak-anak kita untuk menghadapi climate change," ujar Gogot dalam 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development (ECD) di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Menurut Gogot, negara-negara peserta forum saling berbagi pengalaman mengenai kebijakan dan langkah yang telah diterapkan untuk meningkatkan layanan pendidikan anak usia dini. Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu negara-negara peserta menghadapi tantangan perubahan iklim dan pendanaan pendidikan.

Gogot menjelaskan, terdapat tiga hal yang menjadi kesimpulan forum. Pertama, mendukung peningkatan layanan PAUD agar mampu merespons perubahan iklim melalui kebijakan dan sistem pendidikan yang sesuai.

Kedua, memastikan penggunaan teknologi dalam pendidikan mempertimbangkan tahap perkembangan dan usia anak. Ketiga, memperkuat peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang turut memengaruhi perkembangan anak.

Menurut Gogot, pendidikan anak usia dini tidak hanya berlangsung di satuan PAUD, tetapi juga di lingkungan keluarga. Karena itu, orang tua perlu mendapat dukungan agar dapat mendampingi proses pembelajaran anak di rumah.

"Bagaimana kita juga memberikan education for the family, pendidikan untuk rumah," kata Gogot.

Sementara itu, Direktur SEAMEO CECCEP Vina Andriani mengatakan, forum tersebut membahas dua isu utama, yakni respons pendidikan anak usia dini terhadap perubahan iklim dan keberlanjutan pendanaan PAUD. Kedua persoalan tersebut dinilai berkaitan dengan upaya memperluas akses dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Vina menjelaskan, PAUD memiliki peran dalam pembangunan yang tidak terbatas pada sektor pendidikan. Menurut dia, layanan pendidikan pada tahap awal kehidupan juga berkaitan dengan perkembangan ekonomi dan kondisi sosial masyarakat.

"Pada intinya forum ini menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini memegang peranan yang sangat penting bukan hanya untuk ekonomi sebuah negara, tapi juga yang tidak kalah pentingnya memastikan kondisi sosial," ujar Vina.

Karena itu, pengembangan layanan PAUD membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta. Kerja sama tersebut diperlukan untuk mendukung akses pendidikan, kualitas layanan, dan keberlanjutan pembiayaan.

Head of Policy and Advocacy Tanoto Foundation Eddy Henry mengatakan, penyelenggaraan forum selama tiga hari menunjukkan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam pengembangan PAUD. Menurut dia, kolaborasi dapat melibatkan pemerintah, swasta, dan berbagai pemangku kepentingan dari dalam maupun luar negeri.

"Kita bisa melihat bahwa pentahelix collaboration private-public partnership itu sangat bisa terwujud dan tidak hanya di Indonesia, tapi melibatkan aktor-aktor dari luar negeri juga," ujar Eddy.

Eddy mengatakan, Indonesia memiliki sejumlah praktik pengelolaan PAUD yang dapat dibagikan kepada negara lain. Pada saat yang sama, Indonesia juga dapat mempelajari pengalaman negara-negara di kawasan Asia-Pasifik untuk meningkatkan layanan pendidikan anak usia dini.

"Kita juga belajar praktik-praktik apa yang telah berhasil dari negara-negara tetangga kita untuk kita pelajari, untuk membantu kita nanti memberikan layanan terbaik, baik itu meningkatkan akses maupun kualitas dari layanan kepada anak-anak usia dini," kata Eddy.

Forum 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development diselenggarakan oleh ARNEC, Tanoto Foundation, SEAMEO CECCEP, Koalisi PAUDHI Nasional, dan Kemendikdasmen. Kegiatan tersebut menjadi wadah pertukaran pengalaman antarpemangku kepentingan mengenai perubahan iklim, pendanaan, dan peningkatan kualitas layanan PAUD.

Berita Lainnya

Rekomendasi