Selasa 26 Sep 2023 18:18 WIB

SKK Migas Paparkan Enam Upaya Tekan Emisi Karbon

Eksplorasi migas kini dilakukan dengan kurangi kegiatan yang timbulkan jejak karbon.

Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengunjungi booth HCML di hari kedua penyelenggaraan kegiatan ICIUOG 2023, di Bali, Kamis (21/9/2023).
Foto: dok hcml
Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengunjungi booth HCML di hari kedua penyelenggaraan kegiatan ICIUOG 2023, di Bali, Kamis (21/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan memiliki enam upaya untuk menekan emisi karbon dalam rangka mendukung program Net Zero Emission (NZE) atau nol emisi karbon pada tahun 2060. Tenaga Ahli Kepala SKK Migas Luky Yusgiantoro menyampaikan bahwa eksplorasi hulu minyak dan gas saat ini dilakukan dengan mengurangi kegiatan yang menimbulkan jejak karbon.

"Kami melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan-kegiatan di hulu migas. Kami juga mencari minyak dengan cara seminimum mungkin mengurangi jejak karbon melalui enam low carbon initiatives," katanya dalam diskusi bertema "Accelerating Decarbonization in Oil & Gas Sector" di Jakarta, Selasa (26/9/2023).

Baca Juga

Luky menjelaskan, enam upaya tersebut antara lain adalah regulasi, pengurangan emisi, flare, reforestasi atau penanaman pohon, carbon capture storage (CCS) maupun carbon capture utilization and storage (CCUS), hingga manajemen energi.

Menurut dia, meski sektor hulu migas menghasilkan emisi karbon yang cukup besar melalui proses produksi, di sisi lain sektor ini juga berupaya menekan emisi salah satunya dengan mengembangkan teknologi penangkapan karbon.

 

SKK Migas terus menjajaki peluang penggunaan teknologi penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon atau CCS dan CCUS, yang diklaim menjadi salah satu solusi untuk menekan emisi karbon.

Lebih lanjut Luky mengatakan, kebijakan low carbon initiatives juga diterapkan bagi perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan pemerintah.

Kontraktor di sektor migas wajib memenuhi aspek risiko Keselamatan, Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L) yang lebih tinggi daripada sektor lain lantaran penggunaan peralatan dan instalasi migas yang menggunakan teknologi.

"Standar kontraktor-kontraktor migas itu jauh lebih tinggi daripada sektor lainnya. Jadi, standar yang dijadikan acuan itu sudah sangat maksimal dalam pengelolaan lingkungan," katanya.

Selain itu, SKK Migas juga fokus pada konsep trilema energi yakni tiga faktor penting yang harus diperhatikan dalam mengelola energi di antaranya energy security (ketahanan energi), energy affordability (keterjangkauan biaya energi), dan environmental sustainability (keberlanjutan lingkungan).

Ia menekankan, pentingnya menjalankan kegiatan industri migas sebagai ketahanan energi, sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Dengan berbagai upaya tersebut, SKK Migas optimis target nol emisi karbon dapat tercapai pada tahun 2060 atau lebih cepat. "Tugas SKK Migas tidak hanya mencari minyak dan gas, tetapi salah satu yang utama adalah lingkungan," ujarnya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement