Senin 02 Oct 2023 14:31 WIB

Pengamat Tata Kota: KBT Bisa Jadi Contoh Zona Bebas Emisi Karbon

Dengan menjadi zona bebas emisi, masyarakat memahami pentingnya menjaga lingkungan.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga berpendapat bahwa ruas jalan di bantaran Kanal Banjir Timur (KBT) berpotensi menjadi wilayah percontohan zona bebas emisi karbon.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga berpendapat bahwa ruas jalan di bantaran Kanal Banjir Timur (KBT) berpotensi menjadi wilayah percontohan zona bebas emisi karbon.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, berpendapat bahwa ruas jalan di bantaran Kanal Banjir Timur (KBT) berpotensi menjadi wilayah percontohan zona bebas emisi karbon. Hal itu bisa terwujud jika menerapkan aturan bebas kendaraan bermotor yang diawasi pemerintah, khususnya pada akhir pekan.

"Kalau KBT ingin dikembangkan jadi destinasi wisata, arus lalu lintasnya harus benar-benar diatur. Misalnya, pada Sabtu dan Ahad daerah itu bisa dijadikan bebas kendaraan motor atau kendaraan pribadi, supaya orang pada Sabtu-Ahad tumplek-blek di situ. Itu akan lebih menggerakkan perekonomian warga sekitar dan kebutuhan ruang publik bagi warga Jakarta Timur dan sekitarnya," kata Nirwono Joga kepada Antara di Jakarta pada Senin (2/10/2023).

Baca Juga

Dengan menerapkan zona bebas emisi karbon di wilayah yang dekat dengan alam, yakni aliran air KBT yang terhubung dengan sejumlah kali di Jakarta, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sambil menikmati ruang terbuka hijau.

Selain itu, kata Nirwono, pemanfaatan KBT menjadi zona bebas emisi karbon dapat mendorong wilayah itu menjadi wisata air ruang publik sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan akses transportasi massal.

 

"Jadi, masyarakat dapat semua. Misalnya TransJakarta listrik khusus di daerah KBT. Kemudian mengembangkan trotoar dan jalur sepeda yang ditata ulang dan juga bangunan sekitar juga ikut ditata ulang," katanya menambahkan. 

Ia menjelaskan, dengan sudah tersedianya terminal terpadu dan stasiun kereta api yang tidak jauh dari lokasi Kanal Banjir Timur, yakni sejumlah stasiun dan Terminal Pulo Gebang, diharapkan dapat lebih mengundang warga dari luar Jakarta Timur untuk datang dengan menumpang transportasi publik. 

"Transportasi menjadi tulang punggung pengembangan di kawasan situ. Jadi, warga sekitar Jakarta Timur seperti di Bekasi contohnya, juga bisa datang menggunakan transportasi publik," kata Joga.

Diberitakan sebelumnya bahwa selama ini memang banyak masyarakat yang melakukan aktivitas di sepanjang bantaran Kanal Banjir Timur seperti berwisata, menjadikannya sebagai lahan untuk bercocok tanam, hingga kegiatan jual-beli dengan menggunakan bangunan semi permanen. 

Ia menambahkan pengembangan kawasan KBT juga bisa berpotensi menjadi ikon untuk Jakarta Timur. "Karena potensi itu sebenarnya ada di depan mata, kalau dirancang dengan bagus bisa menjadi ikon baru untuk di wilayah Timur," ujar dia.

 

sumber : antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement