Selasa 28 Nov 2023 17:00 WIB

Waspada, Pemanasan Global Menuju 2,9 Derajat Celsius Abad Ini

Negara-negara di dunia diminta segera implementasikan strategi iklim.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Pemanasan global (ilustrasi)
Foto: www.freepik.com
Pemanasan global (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Negara-negara harus melakukan upaya yang jauh lebih besar untuk mengimplementasikan strategi iklim mereka selama dekade ini. Pasalnya, menurut laporan terbaru dari Program Lingkungan PBB (UNEP), kebijakan iklim saat ini akan mengakibatkan kenaikan suhu bumi sebesar tiga derajat Celsius pada abad ini. Kenaikan tersebut dapat dibatasi hingga 2,9 derajat Celsius jika negara-negara menerapkan rencana iklim nasional (NDC) mereka secara penuh.

Hal ini dapat ditekan hingga 2,5 derajat Celcius jika rencana negara-negara berkembang, yang saat ini bergantung pada dukungan finansial, dilaksanakan. Karena hal tersebut akan menghasilkan penurunan emisi sebesar sembilan persen. 

Baca Juga

Dalam skenario UNEP yang paling optimis, di mana semua NDC bersyarat dan komitmen Net Zero dipenuhi, pembatasan kenaikan suhu hingga dua derajat Celcius dapat dicapai. Skenario ini dianggap memberikan peluang terbaik sebesar 14 persen untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celcius.

Saat ini, 97 negara telah berjanji untuk mencapai emisi nol bersih, naik dari 88 negara tahun lalu. Janji tersebut mencakup 81 persen gas rumah kaca (GRK) dunia. Namun, para penulis tidak menganggap janji ini kredibel, dengan menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari negara-negara G20 yang mengurangi emisi dengan kecepatan yang konsisten dengan target nol bersih mereka.

 

Rencana nol bersih (Net Zero) nasional memiliki beberapa kelemahan, menurut Anne Olhoff, kepala editor ilmiah laporan tersebut. Banyak di antaranya yang tidak mengikat secara hukum, atau tidak memiliki rencana implementasi yang jelas, dan ada kekurangan target antara saat ini dan tanggal-tanggal ketika pemerintah menyatakan bahwa mereka ingin mencapai target nol bersih

"Namun yang paling penting, emisi masih terus meningkat di negara-negara yang telah mengedepankan janji emisi nol bersih. Ada banyak cara untuk mencapai nol, tetapi pada titik tertentu Anda harus mencapai puncaknya dan mengurangi. Dan semakin lama Anda menunggu hingga mencapai puncaknya, semakin sulit untuk benar-benar mencapai nol," kata Olhoff seperti dilansir Eco Business, Selasa (28/11/2023).

Di bawah Perjanjian Paris, ambisi dalam NDC dirancang untuk ditingkatkan dari waktu ke waktu. Pada COP28, yang dimulai di Dubai pada akhir November, negara-negara akan memperdebatkan bagaimana membangun ambisi baru di bawah Global Stocktake yang pertama. Hal ini akan menjadi dasar bagi putaran NDC berikutnya yang harus diserahkan oleh negara-negara pada tahun 2025, yang akan memiliki target untuk tahun 2035.

“Negara-negara seharusnya fokus pada implementasi kebijakan yang ada pada dekade ini, daripada menjanjikan target yang lebih tinggi untuk tahun 2030. Apakah ambisi target 2030 dinaikkan atau tidak, tidak terlalu penting dibandingkan dengan pencapaian target tersebut. Jika negara-negara menemukan bahwa mereka juga dapat memperkuat ambisi untuk tahun 2030, itu merupakan keuntungan tambahan,” kata Olhoff.

Laporan tersebut menyatakan bahwa negara-negara berpendapatan tinggi dan beremisi tinggi di antara negara-negara G20 harus mengambil tindakan yang paling ambisius dan cepat, serta memberikan dukungan keuangan dan teknis kepada negara-negara berkembang.

Namun, laporan tersebut menambahkan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah telah menyumbang lebih dari dua pertiga emisi gas rumah kaca global. Kebutuhan pembangunan di negara-negara ini perlu dipenuhi dengan pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan emisi rendah, seperti dengan mengurangi kebutuhan energi dan memprioritaskan energi bersih.

"Ini adalah kelompok negara yang sangat besar dan beragam, dan peluang untuk pertumbuhan rendah emisi sangat bergantung pada keadaan nasional. Usulan reformasi keuangan internasional melalui bank-bank pembangunan multilateral harus meningkatkan akses keuangan dan kemampuan negara-negara berkembang untuk menarik investasi,” kata Ohloff.  

Laporan ini menunjukkan bahwa dunia juga perlu menggunakan penghapusan karbon dioksida (CDR), yang menurut para penulis memiliki peran dalam tiga rentang waktu. Saat ini, CDR sudah dapat berkontribusi dalam menurunkan emisi bersih.

Dalam jangka menengah, CDR dapat berkontribusi dalam mengatasi emisi residu dari sektor-sektor yang sulit dikurangi, seperti penerbangan dan industri berat. Dan dalam jangka panjang, CDR berpotensi untuk digunakan dalam skala yang cukup besar untuk menurunkan suhu rata-rata global. Mereka menekankan bahwa penggunaannya harus menjadi tambahan dari dekarbonisasi yang cepat pada industri, transportasi, sistem panas dan listrik.

CDR mengacu pada penghilangan langsung CO2 dari atmosfer dan penyimpanannya yang tahan lama di reservoir geologi, daratan atau lautan, atau dalam produk. Hal ini berbeda dengan penangkapan dan penyimpanan karbon (CSS), yang menangkap CO2 dari emisi di sumbernya, seperti pembangkit listrik, dan memindahkannya ke dalam penyimpanan permanen. Meskipun beberapa metode CCS memiliki kesamaan fitur dengan CDR, metode ini tidak akan pernah bisa menghilangkan CO2 dari atmosfer.

Beberapa CDR telah digunakan, terutama melalui reboisasi, penghijauan dan pengelolaan hutan. Namun, ini masih dalam skala yang sangat kecil, dengan perkiraan penyerapan sebesar 2 gigaton setara karbon dioksida (GtCO2e) per tahun. Karenanya, para pihak terkait perlu mengkoordinasikan pengembangan CDR.

“Pada COP28, keputusan (Global Stocktake) dapat memperjelas peran CDR dalam kebijakan iklim global dan menuntut penyertaan CDR sebagai hal yang terpisah dalam NDC untuk tahun 2035, yang akan jatuh tempo pada tahun 2025,” kata Dr Oliver Geden, penulis utama bab mengenai CDR.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement