Kamis 30 Nov 2023 19:05 WIB

Program Wakaf Hutan Masuk dalam Bursa Karbon Dinilai akan Bernilai Ekonomi Tinggi

Wakaf hutan juga berpotensi membuat Indonesia menjadi suplier karbon.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, Bambang Brodjonegoro saat sesi kedua talkshow Hutan Wakaf di Jakarta, Kamis (30/11/2023). Talkshow tersebut mengangkat tema Meningkatkan Dukungan untuk Solusi Iklim dari Masyarakat Khususnya dalam Pembiayaan Iklim yang Inovatif. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari acara peluncuran Mosaic sekaligus Anugerah Syariah Republika (ASR) 2023.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, Bambang Brodjonegoro saat sesi kedua talkshow Hutan Wakaf di Jakarta, Kamis (30/11/2023). Talkshow tersebut mengangkat tema Meningkatkan Dukungan untuk Solusi Iklim dari Masyarakat Khususnya dalam Pembiayaan Iklim yang Inovatif. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari acara peluncuran Mosaic sekaligus Anugerah Syariah Republika (ASR) 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar FEB Universitas Indonesia, Bambang Brodjonegoro, menyatakan bahwa Indonesia sangat potensial menjadi supplier karbon melalui wakaf hutan. Apalagi, kata dia, hutan tropis Indonesia adalah yang terbesar ketiga setelah Brazil dan Kongo. Sekitar 59 persen daratan Indonesia merupakan hutan tropis yang merupakan 10 persen dari total luas hutan di dunia, sekitar 126 juta hektare hutan.

“Hutan kita itu menjadi aset yang sangat luar biasa. Tentu harus kita manfaatkan, salah satunya dengan wakaf hutan. Yang secara manfaat juga bisa berdampak bagi masyarakat, bukan hanya untuk ekonomi dan dunia usaha,” kata Bambang dalam panel diskusi yang diselenggarakan MOSAIC (Muslims for Shared Actions on Climate Impact) di Jakarta, Kamis (30/11/2023).

Baca Juga

Bambang menjelaskan bahwa esensi wakaf hutan yaitu memberikan asas manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, dimana itu sesuai dengan program perhutanan sosial yang diusung pemerintah. Dan hal tersebut, kata dia, bisa menjadi modal tersendiri bagi wakaf hutan untuk bisa terus berkembang.

“Esensi utama wakaf itu kan harus bermanfaat bagi masyarakat, dan menurut saya itu bisa menjadi modal bagi wakaf hutan untuk terus berkembang,” kata Bambang.

 

Supaya nilai ekonomi wakaf hutan semakin meningkat, Bambang juga mendorong agar program wakaf hutan masuk bursa karbon. Dia optimistis, setelah masuk bursa karbon, wakaf hutan bisa memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Bambang menjelaskan bahwa nilai ekonomi dari perdagangan karbon di bursa karbon sangat potensial, mengingat saat ini dunia sedang bekerja keras untuk mengatasi pemanasan global akibat perubahan iklim.

“Sekarang itu, pelaku bisnis juga kan perlu membangun citra sebagai perusahaan yang bisa melakukan dekarbonisasi dan komitmen pada green economy. Yang mana mereka bisa mencapainya dengan aktif di carbon trading. Di sinilah Indonesia bisa tampil ke permukaan sebagai sumber atau supplier carbon credit,” ungkap Bambang.

Untuk diketahui, hutan wakaf merupakan hutan yang dibangun di atas tanah wakaf. Hutan wakaf merupakan salah satu inisiatif MOSAIC dalam mengatasi perubahan iklim.

Bekerja sama dengan Hutan Wakaf Bogor, program hutan wakaf tersebut sudah mengelola lima bidang tanah seluas 1 hektar yang terletak di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Ke depannya diharapkan, luas hutan wakaf akan terus bertambah secara signifikan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement